Rabu, 21 Jul 2021 13:32 WIB

Ini Alasan Singapura 'Lockdown' di Tengah Wacana Berdamai dengan COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jakarta -

Setelah hampir tiga pekan memutuskan 'berdamai' dengan COVID-19, Singapura kembali memberlakukan pembatasan wilayah sebagian. Langkah ini dilakukan karena kasus COVID-19 mulai meningkat tajam.

Singapura kembali ke fase 2 (peringatan tinggi) untuk memerangi peningkatan kasus COVID-19 yang ditemukan secara lokal. Pembatasan ini akan berlaku mulai Kamis (22 Juli) hingga 18 Agustus.

Lonjakan kasus kembali terjadi di Singapura

Singapura melaporkan 182 infeksi baru COVID-19 yang ditularkan secara lokal pada Selasa (20 Juli), dengan 142 kasus terkait dengan klaster Pelabuhan Perikanan Jurong. Ini menjadikannya kluster aktif terbesar di Singapura, dengan total 321 kasus.

Empat belas kasus terkait dengan klaster KTV menjadikan jumlah total kasus di klaster tersebut menjadi 207. Di antara kasus baru yang diumumkan pada hari Selasa, 156 terkait dengan infeksi sebelumnya, dengan 81 sudah ditempatkan di karantina dan 75 terdeteksi melalui hasil penelusuran kontak.

Ada juga 13 infeksi COVID impor, yang ditempatkan pada pemberitahuan tinggal di rumah atau diisolasi pada saat kedatangan. Enam kasus terdeteksi pada saat kedatangan di Singapura, sementara tujuh lainnya mengalami sakit selama pemberitahuan tinggal di rumah atau periode isolasi.

Secara total, Singapura melaporkan 195 kasus COVID-19 baru pada hari Selasa. Ini adalah penghitungan harian tertinggi sejak 10 Juli tahun lalu ketika 191 infeksi terdeteksi.

Pengetatan dilakukan

Aktivitas yang mengharuskan melepaskan masker, seperti kelas olahraga berat atau gym dalam ruangan, tidak akan diizinkan. Kegiatan lain seperti salon, karaoke, juga tidak akan diizinkan.

Pembatasan tidak akan berlaku untuk konsultasi medis dan perawatan gigi yang mengharuskan pasien melepas masker mereka. Namun perawatan wajah non-medis tidak akan dikecualikan.

(kna/up)