Kamis, 22 Jul 2021 20:30 WIB

Fakta-fakta Ivermectin: Khasiat, Dosis, hingga Efek Samping

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Ivermectin is not a brand name: it is the generic term for the drug. Foto: Getty Images/iStockphoto/RapidEye
Jakarta -

Ivermectin adalah obat antiparasit yang biasa digunakan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi cacing. Belakangan ini, Ivermectin kerap dibahas karena dianggap manjur untuk membantu pengobatan pasien COVID-19.

Namun, penggunaannya untuk pengobatan pasien COVID-19 masih belum mendapat 'restu' dari berbagai otoritas kesehatan di dunia. Salah satunya adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga belum memberikan persetujuan terkait penggunaan Ivermectin untuk pasien COVID-19, kecuali dalam uji klinis. Di Indonesia sendiri Ivermectin tengah menjalani uji klinis di 8 rumah sakit, untuk membuktikan kemanjuran obat ini dalam terapi pengobatan pasien COVID-19.

Apa saja khasiat Ivermectin?

Dikutip dari WebMD, Ivermectin memiliki khasiat utama untuk mengobati infeksi cacing gelang. Obat ini bekerja dengan cara melumpuhkan dan membunuh parasit.

Selain itu, Ivermectin juga bermanfaat untuk pengobatan infeksi parasit pada kulit dan mata. Perlu diketahui, ada beberapa bentuk obat Ivermectin, yakni tablet, losion, dan krim.

Biasanya dokter akan meresepkan Ivermectin untuk mengatasi infeksi parasit cacing seperti di bawah ini.

  • Onchocerciasis (parasit yang menyerang kulit dan mata)
  • Strongyloidiasis (parasit yang biasanya berada di usus)
  • Ascariasis (parasit yang biasanya berada di usus)
  • Cutaneous larva migrans (parasit yang menyerang kulit)
  • Filariasis (parasit yang biasanya berada di kelenjar getah bening).

Potensi Ivermectin untuk pengobatan pasien COVID-19

Sebuah penelitian dari Monash University dan Doherty Institute menyebut Ivermectin memiliki potensi dalam membantu pengobatan pasien COVID-19. Disebutkan, obat ini dapat membunuh virus Corona dalam waktu 48 jam.

Meski mekanisme Ivermectin dalam membunuh virus belum diketahui, namun menurut ketua peneliti, Kylie Wagstaff, kemungkinan obat ini bekerja menghentikan virus dengan cara melemahkan kemampuan sel inang.

Meski demikian, penelitian ini baru dilakukan secara in vitro atau di dalam laboratorium, sehingga perlu penelitian lebih lanjut terkait penggunaannya kepada manusia.

Maka dari itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan di Indonesia (BPOM) belum memberikan izin penggunaan Ivermectin untuk terapi pengobatan pasien COVID-19. Obat ini baru mendapat izin dari BPOM sebagai obat cacing.

Oleh karenanya, BPOM memperingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi Ivermectin secara sembarangan. Meski penggunaannya di luar uji klinis dimungkinkan melalui skema penggunaan khusus atau expanded Access Program (EAP), namun ini berbeda dengan izin penggunaan darurat (EUA).

"Mengingat Ivermectin adalah obat keras dan persetujuan EAP bukan merupakan persetujuan Izin Edar, maka ditekankan kepada Industri Farmasi yang memproduksi obat tersebut dan pihak manapun untuk tidak mempromosikan obat tersebut, baik kepada petugas kesehatan maupun kepada masyarakat," tulis BPOM, Rabu (21/7/2021).

Berapa dosis untuk penggunaan Ivermectin?

Ivermectin termasuk obat keras, sehingga tidak bisa dikonsumsi secara sembarangan tanpa resep dokter. Informasi yang diberikan di bawah ini tidak serta-merta menggantikan resep dokter. Kamu tetap perlu melakukan konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi Ivermectin.

Selain itu, kamu juga tidak dianjurkan untuk mengonsumsi obat ini apabila memiliki penyakit hati atau ginjal, HIV, atau kondisi lain yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Kemudian jangan pernah mengonsumsi Ivermectin dalam jumlah dosis yang lebih besar, atau lebih lama dari yang telah direkomendasikan oleh dokter.

Dosis Ivermectin untuk orang dewasa

  • Dosis untuk infeksi onchocerciasis: 0,15 mg/kg diminum sehari sekali selama 12 bulan
  • Dosis untuk infeksi strongyloidiasis: 0,2 mg/kg diminum sehari sekali selama 1-2 hari
  • Dosis untuk infeksi ascariasis: 0,2 mg/kg diminum sehari sekali
  • Dosis untuk infeksi cutaneous larva migrans: 0,2 mg/kg diminum sehari sekali
  • Dosis untuk infeksi filariasis: 0,2 mg/kg diminum sehari sekali.

Peringatan penggunaan Ivermectin

Supaya Ivermectin dapat memberikan manfaat yang maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi obat ini. Di antaranya sebagai berikut.

  • Beritahu riwayat kesehatan kamu kepada dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi Ivermectin, terutama jika mengalami masalah hati
  • Minum obat ini saat perut kosong, setidaknya 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan
  • Efek dari Ivermectin dapat membuat kamu menjadi pusing, ada baiknya untuk menghindari mengonsumsi minuman beralkohol
  • Selama kehamilan, obat ini hanya boleh digunakan jika benar-benar dibutuhkan. Diskusikan terkait risiko dan manfaatnya dengan dokter
  • Ivermectin dapat masuk ke dalam ASI. Meski belum ada laporan terkait dampaknya kepada bayi, ada baiknya konsultasikan lebih dulu dengan dokter sebelum menyusui.

Apa saja efek samping Ivermectin?

Sama halnya dengan obat-obatan lain, mengonsumsi Ivermectin juga dapat memicu efek samping, apalagi jika dikonsumsi tanpa mengikuti resep dokter. Berikut sejumlah efek samping dari penggunaan Ivermectin, dikutip dari Drugs.com.

Efek samping Ivermectin paling umum:

  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Pusing
  • Mual
  • Diare
  • Ruam kulit.

Efek samping Ivermectin serius:

  • Sakit mata atau mata bengkak
  • Ruam kulit yang parah
  • Kebingungan hingga sulit berjalan
  • Demam dan pembengkakan kelenjar
  • Jantung berdebar cepat dan kesulitan bernapas
  • Sakit leher atau punggung
  • Perasaan pusing seperti ingin pingsan.



Simak Video "Larangan Keras BPOM soal Promosi Ivermectin sebagai Obat COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)