Senin, 26 Jul 2021 13:05 WIB

Punya Darah Tinggi? Ini Makanan yang Sebaiknya Dihindari

Yudistira Imandiar - detikHealth
ilustrasi makanan berlemak Foto: Shutterstock
Jakarta -

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang mengancam berbagai kalangan usia. Mengacu pada keterangan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), di tahun 2018 lebih dari 63 juta orang Indonesia mengidap hipertensi.

Risiko hipertensi mengancam berbagai kalangan usia. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, kelompok usia 18 tahun sampai dengan di atas 75 tahun memiliki risiko mengidap hipertensi. Risiko tersebut meningkat pada kelompok usia yang lebih tinggi.

Penyakit yang lebih populer disebut 'darah tinggi' ini kerap tak disadari oleh pengidapnya. Hal itu tercermin dari Riskesdas 2018, yang menunjukkan 59 persen dari pengidap hipertensi merasa dirinya sehat sehingga tak menjalani perawatan dan minum obat rutin.

Kurangnya kesadaran terhadap hipertensi membuat penyakit ini disebut sebagai silent killer. Pengidapnya kerap tak mengalami keluhan berarti. Mereka baru menyadari hipertensi begitu terjadi komplikasi, seperti masalah jantung, ginjal, mata, dan sebagainya.

Hipertensi dipicu berbagai hal. Salah satu faktor terbesar adalah pola makan tidak sehat. Dari Riskesdas 2018 diketahui 95,5 persen masyarakat kurang makan sayur dan buah, sementara 35,1 persen masyarakat kurang melakukan aktivitas fisik.

Pengidap hipertensi mutlak harus disiplin menjalankan pola diet sehat dan rutin berolahraga. Mereka juga harus selektif memilih asupan makanan dan minuman, agar tak memicu peningkatan tekanan darah.

Ada beberapa jenis asupan yang sebaiknya dihindari pengidap darah tinggi. Berikut ulasannya, seperti dilansir dari Healthline.

1. Garam

Natrium dalam garam dapat memicu eskalasi tekanan darah dan penyakit jantung. Adapun kandungan natrium sekitar 40 persen terkandung dalam garam meja. American Heart Association (AHA) merekomendasikan individu untuk mengonsumsi tidak lebih satu sendok teh garam per hari.

2. Daging Olahan

Agar dapat bertahan lama dan memiliki rasa sedap, daging olahan biasanya diberi natrium sebelum dikemas. Menurut United States Department of Agriculture (USDA) dua potong sosis sapi mengandung 910 mg natrium. Apalagi jika daging olahan dimakan beserta roti, keju, bumbu-bumbu, dan acar, kadar garam yang tinggi akan berpengaruh pada tekanan darah.

3. Gula

Gula pada makanan dan minuman yang manis bisa meningkatkan berat badan orang dewasa maupun anak-anak. Gula tambahan juga berdampak pada peningkatan tekanan darah.

Menurut sebuah studi, mengurangi 2 sampai 3 sendok teh gula bisa menurunkan 8,4 mmHg tekanan darah sistolik dan 3,7 mmHg tekanan darah diastolik pada wanita. AHA merekomendasikan batas gula yaitu enam sendok teh untuk wanita dan sembilan sendok teh untuk pria.

4. Acar Kemasan

Acar bisa menambah kesegaran saat menyantap hidangan. Namun, perlu diperhatikan acar kemasan mengandung kadar garam yang cukup tinggi, agar buah atau sayuran bisa bertahan lama. Maka, sebaiknya batasi konsumsi acar kemasan dan mengganti dengan sayuran segar.

5. Makanan Kemasan Berlemak

Lemak trans atau lemak jenuh adalah lemak buatan yang dapat mengawetkan makanan kemasan. Lemak jenuh yang bisa ditemukan pada mentega, daging merah, dan kulit ayam bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL). Hal itu menyebabkan peningkatan risiko hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Selain selektif memilih jenis makanan, pengidap hipertensi juga mesti rajin mengecek tensi darah sebelum maupun sesudah beraktivitas. Tak perlu repot datang ke fasilitas kesehatan untuk melakukan tensi darah, sebab Anda bisa melakukannya di rumah.

Jika merasa sulit menggunakan tensimeter manual, ada tensimeter otomatis yang bisa dioperasikan dengan mudah. Tensimeter dari OMRON bisa menjadi pilihan praktis untuk #CekHipertensi dengan hasil akurat.

Pengguna tinggal menggunakan manset di lengan, lalu menekan tombol 'start' pada alat pengukur. Setelah itu, angka tekanan darah berikut dengan detak jantung akan muncul di monitor.

"OMRON mendorong masyarakat Indonesia, termasuk generasi milenial untuk tetap sehat melalui pemantauan tekanan darah di rumah. Mengukur tekanan darah secara teratur adalah salah satu langkah paling penting untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi," jelas Marketing Manager OMRON Herry Hendrayadi.

Tensimeter OMRON dapat digunakan di rumah atau di mana pun saat harus mengecek tekanan darah. Produk ini juga sudah digunakan di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.



Simak Video "Menkes Soroti Hipertensi yang Buat Banyak Rakyat RI Gagal Divaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(ads/ads)