Senin, 26 Jul 2021 17:11 WIB

Obat Mahal Ini Susah Dicari, Menkes Sentil Orang-orang yang Hobi Nyetok

Vidya Pinandhita - detikHealth
Remdesivir on covid-19 test report with syringe Foto: Getty Images/iStockphoto/Bill Oxford
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan, terdapat 3 jenis obat yang digunakan oleh pasien COVID-19 namun belum bisa diproduksi sendiri oleh RI sehingga harus impor. Kini seiring kebutuhannya melonjak di berbagai negara, harganya ikut naik hingga ratusan juta.

Obat-obatan tersebut yakni remdesivir, gammaraas, dan actemra.

"Rencananya remdesivir juli akan datang, kita bisa impor 150 ribu dan Agustus kita akan impor 1,2 juta. Sekarang kita sudah dalam proses untuk bisa membuat remdesivir di dalam negeri mudah," ujar Menkes dalam konferensi pers virtual, Senin (26/7/2021).

"Gammaraas kita akan impor 26 ribu Juli ini dan akan impor lagi 27 ribu bulan Agustus," lanjutnya.

Sedangkan actemra, Menkes menyebut, akan datang sebanyak 1000 vial pada Juli dan berlanjut 138 ribu pada Agustus, diimpor dari banyak negara. Mengingat, harga obat ini kini melonjak hingga 50 sampai ratusan juta. Padahal, normalnya obat ini seharga di bawah 10 juta.

Dengan kondisi tersebut, Menkes menegaskan, masyarakat tidak diperbolehkan menyetok ketiga obat tersebut di rumah. Selain kebutuhannya meningkat seiring tingginya jumlah pasien COVID-19, penggunaannya pun harus di rumah sakit karena obat ini dikonsumsi dengan cara injeksi.

"Untuk 3 obat seperti gammaraas, actemra dan remdesivir itu harus disuntikan dan hanya bisa dilakukan di rumah sakit. Jadi tolong biarkan obat-obatan ini dikonsumsi digunakan yang sesuai prosedurnya karena saya melihat dan saya takut, banyak kemudian kita ingin beli sendiri ditaruh di rumah karena takut," tutur Menkes.

Kasihan yang sakit dan benar-benar butuh

Ia juga menegaskan, obat yang bisa diperoleh di apotek pun tak seharusnya diborong untuk distok. Selain obat ini harus digunakan berdasarkan resep dokter demi keamanan pasien, kondisi stok habis akan menyulitkan para pasien yang benar-benar dalam kondisi membutuhkan.

"Kasihan yang sakit kalau kita sebagai orang sehat ingin nyimpen obat. Bayangkan 20 juta keluarga menengah pingin beli azithromycin 1 paket 5 tablet itu 100 juta obat akan tertarik dari apotek dan disimpan di rumah sebagai stok," bebernya.

"Padahal obat-obat ini harusnya dipakai sebagai resep untuk orang yang sakit jadi kami minta tolong agar kita biarkan obat-obat ini dibeli oleh orang yang membutuhkan, bukan dibeli sebagai stok. Kasihan teman-teman yang membutuhkan," pungkas Menkes.



Simak Video "Alasan Badan Obat AS Belum Restui Ivermectin Dipakai untuk Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)