Selasa, 27 Jul 2021 09:05 WIB

Kenali Pengapuran Sendi Bersama dr. Ricky Hutapea

Sponsored - detikHealth
dr Ricky Hutapea Foto: Eka Hosipital
Jakarta -

Pernahkah Anda mengeluhkan kondisi nyeri lutut? Dalam sekejap, bisa jadi timbul berbagai pendapat juga solusi yang diklaim paling baik dari sekitar Anda. Untuk itu, mari kenali lebih dalam seputar pengapuran sendi bersama Dokter Ricky Hutapea Sp.OT (K), Dokter Spesialis Orthopedi Konsultan Hip and Knee dari Eka Hospital.

Apa Itu Pengapuran Sendi?

Penyakit 'pengapuran sendi' dikenal dengan osteoartritis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pengapuran adalah pengerasan karena terbentuknya garam kalsium pada jaringan daging, tulang, atau gigi. Pengapuran sendi bagi orang awam sering disalahartikan dengan adanya suatu zat kapur pada sendi, padahal arti dari istilah pengapuran sendi tersebut melenceng jauh dari zat kapur pada sendi.

Menurut Dokter Ricky, Osteo berarti tulang, artikulasi berarti sendi, dan itis berarti ada peradangan. Jadi, osteoartritis berarti adanya peradangan pada sendi dan tulang di sekitarnya. Peradangan ini menimbulkan nyeri, kaku, dan bengkak.

Dokter Ricky menjelaskan osteoartritis merupakan jenis arthritis lutut yang sering ditemukan dan paling sering terjadi pada seseorang dengan usia 50 tahun ke atas. Namun, tidak menutup kemungkinan penyakit ini terjadi pada usia lebih muda.

Ia menegaskan bahwa osteoartritis dapat mempengaruhi kualitas hidup di seluruh dunia, seiring dengan bertambahnya masalah obesitas dan usia.

Gejala Pengapuran Sendi

Gejala yang umum dialami oleh pengidap osteoartritis meliputi.

  • Nyeri di persendian yang dirasakan selama atau setelah beraktivitas.
  • Rasa kaku pada sendi di pagi hari yang membuatnya sulit digerakkan.
  • Muncul tonjolan tulang yang keras dan tajam di sekitaran sendi.
  • Pembengkakan pada area sendi.
  • Pelemahan otot di sekitar sendi.

Hal lain yang dapat terjadi adalah perubahan bentuk tungkai kaki O atau kaki X dan bunyi sendi saat ditekuk-luruskan akibat gesekan permukaan sendi yang tidak rata. Kelemahan otot yang terjadi juga dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk beranjak dari duduk, berjalan, atau naik tangga,

Faktor Risiko Osteoartritis

Faktor risiko mayor dari osteoartritis adalah usia, obesitas, trauma sendi, juga beban kerja berat. Faktor-faktor risiko ini dapat dikategorikan ke dalam faktor risiko sistemik (usia, jenis kelamin, genetik, dan overweight), dan faktor biomekanik lokal (cedera sendi, malalignment, dan kelemahan otot).

Penuaan atau usia merupakan faktor utama pada kondisi osteoartritis. Dampak obesitas terhadap osteoartritis adalah melalui penyaluran beban berlebih pada sendi sehingga menyebabkan kerusakan pada lapisan tulang rawan sendi. Obesitas bukan hanya mempengaruhi osteoartritis melalui proses mekanikal beban, melainkan juga melalui jalur metabolik.

Penanganan Osteoartritis

Dokter Ricky memaparkan diagnosis osteoartritis dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan xray, serta tingkat keparahannya akan dinilai dari berkurangnya celah sendi.

Ia menjelaskan secara garis besar penanganan osteoartritis dapat dibagi ke dalam 2 kelompok besar, yaitu non operasi dengan cara edukasi, penggunaan alat bantu berjalan, terapi ice & heat, terapi manual seperti taping dan electrotherapy, latihan fisik seperti penguatan dan peregangan otot, terapi simtomatis, juga penggunaan obat minum.

Di sisi lain, Dokter Ricky juga menjelaskan penanganan lainnya yaitu secara operasi yang diformulasikan seakurat mungkin untuk mengidentifikasi masalah tiap individu dan diperhitungkan secara matang. Sehingga, selepas penanganan pasien dapat melanjutkan terapi untuk mengontrol nyeri dan mengembalikan fungsi sendi lutut.

Tujuan utama dan terpenting dari penanganan osteoartritis adalah mengendalikan nyeri dan memperbaiki fungsi sendi lutut. Penanganan osteoartritis tidak selalu dengan cara operasi.

Tata laksana osteoartritis menurutnya harus didasarkan pada evaluasi riwayat pasien secara menyeluruh, pemeriksaan fisik lengkap, dan pemeriksaan radiologis yang sesuai.

Nyeri sendi pada lutut merupakan masalah yang sering terjadi dan merupakan penyebab disabilitas kronik pada kelompok orang berumur. Gejala OA meliputi gangguan fungsi signifikan, dan juga gejala serta tanda peradangan seperti nyeri, bengkak dan hilangnya mobilitas. Bila mengalami gejala di atas, segera temui dokter spesialis agar dapat penanganan yang tepat untuk mengembalikan kualitas hidup.

Profil Dokter

dr. Ricky Hutapea, Sp.OT (K) Hip and Knee merupakan Spesialis Ortopedi & Traumatologi, ia merupakan konsultan Pinggul dan Lutut yang telah menempuh pendidikan Kedokteran Umum, Spesialis Orthopedi, dan Subspesialis Pinggul dan Lutut di Universitas Indonesia.

Ia telah mengikuti banyak seminar dan pelatihan baik dalam negeri maupun luar negeri. dr. Ricky juga aktif dalam mengajar di Universitas Indonesia RSCM Orthopaedic and Traumatology Department, Program Subspesialis SP2 Adult Reconstruction dan Fakultas Kedokteran YARSI, Program Kedokteran Umum.

dr. Ricky dapat menangani berbagai masalah pada tulang, otot, sendi, ligamen dan organ-organ lainnya yang memiliki peran dalam gerak tubuh. Ia juga sangat ahli dalam menyelesaikan masalah-masalah pada pinggul dan lutut. Adapun beberapa penanganan yang dapat dilakukan adalah Arthroscopy, Arthroplasty, Total Knee Replacement, Total Hip Replacement, dan lainnya.

(Content Promotion/Eka Hosipital)