Selasa, 27 Jul 2021 15:35 WIB

4 Fakta Varian AY.1 'Delta Plus' yang Disebut Sudah Masuk Indonesia

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jakarta -

Varian Delta Plus menambah daftar varian baru Corona yang perlu diwaspadai. Jika varian Delta saja sudah lebih menular, bagaimana dengan varian Delta Plus ya?

Dalam laporan Public Health England, varian Delta Plus ini diidentifikasi pada enam genom dari India yang dilaporkan pada 7 Juni lalu. Badan kesehatan Inggris tersebut telah mengkonfirmasi keberadaan total 63 genom varian Delta dengan mutasi K417N.

Kenapa disebut varian Delta Plus?

Varian Delta Plus yang memiliki kode B1617.2.1 atau AY.1 ditandai dengan adanya mutasi K417N. Mutasi itu ada pada protein spike virus Corona yang membantu virus masuk dan menginfeksi sel manusia.

Menurut Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Soumya Swaminathan, tamnbahan istilah 'Plus' pada varian Delta Plus menandakan bahwa varian tersebut telah mengalami mutasi lebih lanjut. Mutasi yang ada pada varian Delta Plus ini juga ditemukan pada varian Beta (B.1351) dari Afrika Selatan dan Gamma (P.1) dari Brazil.

"Mutasi itu memiliki potensi untuk mempengaruhi respons antibodi dalam melawan virus. Sehingga, ada sedikit kekhawatiran bahwa varian ini akan menjadi lebih mematikan, karena ia menjadi lebih kebal terhadap obat-obatan," kata Dr Soumya yang dikutip dari Twitter resmi WHO, Selasa (27/7/2021).

Bagaimana efek varian Delta Plus terhadap pengobatan?

Varian Delta Plus ini disebut-sebut kebal terhadap pengobatan kombinasi antibodi monoklonal untuk COVID-19 yang disahkan di India. Pengobatan tersebut mencakup Casirivimab dan Imdevimab, yang sudah menerima otorisasi penggunaan darurat di India dari Organisasi Pengawasan Standar Obat Pusat.

Apakah lebih menular?

Menurut ahli imunologi Vineeta Bal, resistensi varian Delta Plus terhadap kombinasi antibodi monoklonal bukanlah indikasi virulensi atau tingkat keparahan yang lebih tinggi. Ia mengatakan belum ada alasan untuk khawatir karena prevalensi varian Delta Plus ini masih tergolong rendah.

"Seberapa menular varian baru ini akan menjadi faktor penting untuk menentukan penyebarannya yang lebih cepat atau sebaliknya," jelas Vineeta Bal kepada kantor berita PTI.

Hal senada juga diungkapkan Dr Soumya di Twitter resmi WHO. Menurutnya, kasus yang berkaitan dengan varian Delta Plus ini masih sangat jarang ditemukan, termasuk secara global.

Apa saja gejala varian Delta Plus ini?

Ahli virologi top di India mengatakan gejala varian Delta Plus ini hampir sama dengan gejala yang ditemukan pada varian Delta dan varian Beta (B1351). Dikutip dari Hindustan Times, beberapa gejala tersebut meliputi:

  • Batuk
  • Diare
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Ruam kulit
  • Perubahan warna pada jari tangan dan kaki
  • Nyeri dada
  • Sesak napas

Para ahli juga mengumpulkan gejala lain yang dikaitkan dengan varian Delta Plus, yaitu

  • Sakit perut
  • Mual
  • Kehilangan nafsu makan.
(sao/up)