Jumat, 30 Jul 2021 05:30 WIB

Kisah Indra Rudiansyah, Mahasiswa RI yang Ikut 'Meracik' Vaksin AstraZeneca

Vidya Pinandhita - detikHealth
Program vaksinasi COVID-19 massal digelar di Pelabuhan Sunda Kelapa. Vaksinasi massal tersebut menyasar para pekerja pelabuhan dan warga sekitar. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Seorang mahasiswa doktoral asal Indonesia, Indra Rudiansyah, terlibat dalam tim pengembangan vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca. Di sela studi S3 Clinical Medicine di Universitas Oxford, ia bergabung dalam tim Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group yang mengembangkan vaksin tersebut, sejak Januari 2020.

Awalnya, penelitian vaksin AstraZeneca hanya dilakukan oleh sedikit orang, karena waktu itu tak ada yang menyangka pandemi COVID-19 akan besar dan berkepanjangan. Namun seiring waktu, tim peneliti membutuhkan bantuan lebih banyak orang, sehingga Indra mendaftarkan diri.

"Saya akhirnya mendapat tugas untuk membantu monitoring antibodi respons di antara para volunteer dalam uji klinis. Jadi memang orang yang terlibat itu sangat banyak bisa ratusan dan di berbagai tempat di UK, tidak hanya di Oxford," ujar Indra dalam dalam bincang bersama media, Kamis (29/7/2021).

Indra mengisahkan suka dukanya berkiprah dalam pembuatan salah satu produk vaksin COVID-19. Menurutnya, pembuatan vaksin memang menantang. Namun, di sanalah ia menemukan kesempatan berharga untuk mempelajari langsung salah satu teknologi vaksin terbaik di dunia.

"Vaksin itu sesuatu yang challenging. Karena vaksin itu high technology jadi saya berkesempatan untuk bisa belajar banyak hal terkait dengan proses tek pembuatan vaksin kemudian studi klinis dari orang-orang terhebat di dunia di dunia yang memang mereka advance dengan teknologi vaksinasi, dengan teknologi pembuatan vaksin," ujarnya.

Bikin vaksin itu nggak mudah

Tidak salah jika Indra menyebut pembuatan vaksin adalah proses yang challenging. Dalam kariernya sebagai peracik vaksin, Indra beberapa kali menemui kegagalan .

Misalnya, dalam proses pembuatan vaksin malaria sebagaimana yang ia dalami di studi doktoralnya. Menurutnya, pembuatan vaksin memang bukan hal gampang. Beragam tahap uji ia lalui, butuh kesabaran untuk Indra berhasil menemukan vaksin paling tepat untuk mengatasi malaria.

"Kalau dukanya, pembuatan vaksin itu tidak gampang. Contohnya berkaitan dengan kegagalan. Saya dengan vaksin malaria sendiri, saya sudah mencoba mendesain beberapa vaksin malaria, mungkin ada 10-12 vaksin yang sudah saya coba buat. Dari sekian banyak tersebut, mungkin hanya 1-2 yang memiliki sinyal prospektif. Itu juga belum tentu bisa bekerja ketika di manusia" ujarnya.

"Dari sekian banyak kandidat, hanya 1-2 yang memiliki prospektif, yang saya masih teliti dan dalami lagi apakah memang sinyal tadi benar-benar bisa prospektif atau tidak," pungkas Indra.



Simak Video "Pemerintah Minta Produsen Vaksin Covid-19 Penuhi Target Pengiriman"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)