Jumat, 30 Jul 2021 13:42 WIB

Kenapa Antibodi Vaksin Corona Turun Setelah 6 Bulan? Ini Kata Peneliti AZ

Vidya Pinandhita - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Ilustrasi. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Pemberian booster atau dosis ketiga vaksin COVID-19 kini direncanakan di sejumlah negara. Pasalnya, sejumlah vaksin disebut mengalami penurunan persentase efikasi dan tingkat antibodi dalam rentang waktu tertentu setelah pemberian dosis lengkap.

Misalnya Pfizer. Berdasarkan riset terbaru di Israel, efikasi vaksin Pfizer berpotensi menurun hingga ke 84 persen dalam 4-6 bulan setelah pemberian dosis lengkap. Disebutkan, efikasi 96,2 persen Pfizer hanya bertahan seminggu hingga 2 bulan setelah dosis ke-2, dengan penurunan efikasi rata-rata 6 persen setiap dua bulan.

Laporan serupa datang dari vaksin Sinovac. Berdasarkan penelitian pada sampel darah usia dewasa 18-59 tahun sebanyak masing-masing 50 peserta, efikasi vaksin Sinovac disebut memudar dalam 6 bulan.

Salah seorang peneliti vaksin Oxford-AstraZeneca, Indra Rudiansyah, menjelaskan penurunan antibodi vaksin dalam jangka waktu tertentu setelah pemberian dosis lengkap adalah normal. Mengingat, vaksin AstraZeneca disebut mengalami penurunan tingkat antibodi dalam waktu 6 bulan setelah pemberian dosis lengkap.

"Jika kita tidak terpapar, antibodi tersebut lama-kelamaan akan turun dan akhirnya ada dalam batas level tertentu di mana tubuh kita tetap me-maintain antibodi tersebut. Memang jumlahnya tidak sebanyak di awal-awal vaksinasi, tapi itu sebenarnya adalah proses yang normal," ujar mahasiswa S3 Clinical Medicine tersebut, dalam bincang bersama media secara virtual, Kamis (29/7/2021).

"Antibodi itu kan suatu protein. Protein itu juga mempunyai waktu paruh di mana lama-kelamaan kalau terlalu banyak dia akan degradasi tetapi akan diproduksi kembali ketika kita menghadapi infeksi yang sebenarnya. Sebenarnya antibodi ini adalah protein yang diproduksi oleh tubuh," lanjut Indra yang tengah menempuh studi di Oxford University.

Indra menegaskan, fungsi paling penting dari vaksinasi adalah menghasilkan sel-sel memori yang bisa memproduksi antibodi ketika tubuh terinfeksi virus Corona di masa mendatang. Meski tingkat antibodi menurun dalam rentang waktu tertentu, vaksin dalam tubuh tetap bisa melindungi.

"Meskipun antibodi dalam tubuh kita tentunya vaksin COVID-19 untuk AstraZeneca turun selama 6 bulan, tapi sebenarnya kita punya perangkat lain seperti sel memori, sel plasma yang bisa dengan reaktif sangat cepat menghasilkan antibodi dengan sangat cepat ketika kita terinfeksi," bebernya.

Dengan begitu Indra menyebut, pemberian booster atau suntikan ke-3 vaksin AstraZeneca khususnya untuk masyarakat tidak diperlukan. Meski dosis-3 diketahui bisa menaikan level antibodi, booster tidak diperlukan mengingat 2 dosis vaksin pun sudah bisa berfungsi dan capaian vaksinasi COVID-19 di Indonesia masih terhitung amat sedikit.

"Dosis 3 saat ini sangat tidak perlu, terutama untuk masyarakat luas. Namun bagi kalangan kesehatan, mungkin itu bisa menjadi studi tersendiri bagi Indonesia untuk melihat bahwa, apakah dosis 3 itu efektif atau bisa mem-booster tenaga kesehatan setelah dosis 2? Atau tidak ada efektivitasnya sama sekali?" pungkas Indra.



Simak Video "AstraZeneca Mulai Ambil Keuntungan dari Vaksin Covid-19 di 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)