Jumat, 06 Agu 2021 11:50 WIB

Dialami Valentino Rossi, Kenapa Momen Pensiun Selalu Mengharukan?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Yamaha-SRT Italian rider Valentino Rossi addresses a press conference to announce that he will retire at the end of the year, in Spielberg, Austria, on August 5, 2021, ahead of the Styrian Motorcycle Grand Prix at the Red Bull Ring race track. - Valentino Rossi. Foto: AFP/ERWIN SCHERIAU
Jakarta -

Masyarakat kini dibuat geger sekaligus terharu lantaran Valentino Rossi mengaku pensiun setelah 26 tahun berpacu. Hal tersebut Rossi beberkan dalam konferensi pers jelang MotoGP Styria, Kamis (5/8/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Rossi menyampaikan perasaan harunya. Sebab, musim ini akan menjadi musim terakhirnya sebagai rider senior MotoGP.

Lantas, wajarkah perasaan haru dan berat muncul pada orang-orang yang harus menjalani pensiun seperti Valentino Rossi?

Psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla, MPsi, menjelaskan, rasa haru lumrah dialami oleh seseorang yang pensiun. Pasalnya, pensiun menjadi momen seseorang meninggalkan karir yang telah menjadi bagian dari identitas diri. Tak jarang, perasaan haru ini juga diiringi pertanyaan seputar apa yang akan dilakukan setelah pensiun.

"(Perasaan haru saat pensiun) tentunya lumrah, karena karirnya selama ini adalah bagian dari identitas diri dan nilai, keberhargaan dirinya yang sudah terbentuk berpuluh tahun. Meninggalkan karirnya selama ini akan menjadi kehilangan yang sangat juga yang bisa dirasakan olehnya," terangnya pada detikcom, Jumat (6/8/2021).

"Mungkin ada muncul pertanyaan dalam dirinya (seperti) what next? Apakah ke depannya saya akan tetap dapat mempertahankan nilai dan pandangan (terhadap dirinya) yang selama ini ada?" lanjut Vero.

Ia membenarkan, sebagian orang mengalami perasaan kehilangan ketika harus pensiun. Namun menurutnya, pensiun tak berarti 'selesai' karirnya. Ia mengingatkan, akhir dari sesuatu, dalam hal ini yakni karir, selalu menjadi awal dari sesuatu yang baru.

Vero mengingatkan, berhenti berkarir tak berhenti kehilangan makna diri. Sebaliknya mengingat bahwa pensiun bukan titik akhir, orang-orang bisa menghabiskan masa pensiun dengan tetap berkarya dan produktif.

"Menemukan pemaknaan diri yang baru ketika situasi berubah pasti dapat dilakukan selama kita mau terbuka dan fleksibel. Pemaknaan diri terhubung dengan karya dan aktivitas yang dipilih untuk dilakukan semasa pensiun. Diri kita akan selalu berharga tidak peduli siapa kita dan karir kita," pungkas Vero.

Simak video 'Raut Sedih Valentino Rossi Saat Putuskan Pensiun':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)