Jumat, 06 Agu 2021 18:30 WIB

Amukan Corona di Tokyo Makin Menjadi-jadi, Benarkah karena Olimpiade?

Vidya Pinandhita - detikHealth
TOKYO, JAPAN - MARCH 13: People cycle past a banner for the Tokyo Olympics on March 13, 2020 in Tokyo, Japan. Excluding the Diamond Princess cruise ship cases, the number of coronavirus infections in Japan reached 684 today as United States President Donald Trump suggested the Tokyo Olympics should be postponed to next year. (Photo by Carl Court/Getty Images) Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta -

Tokyo melaporkan penambahan kasus baru COVID-19 sebanyak 5.042 per Kamis (5/8/2021). Angka ini menjadi rekor baru semenjak pandemi COVID-19 merebak di ibu kota Jepang, yang kini tengah menyelenggarakan Olimpiade Tokyo 2020.

Dengan penambahan harian tersebut, Tokyo kini mencatat total kasus 236.139, mencapai seperempat dari total kasus di Jepang. Mengingat, Tokyo telah berada dalam status darurat sejak pertengahan Juli. Sempat ada larangan operasi restoran dan bar, aturan pembatasan ini kini dinilai melonggar lantaran masyarakat jenuh.

"Kami perlu mengatasi situasi karena kami sekarang melihat urgensi yang lebih kuat," Perdana Menteri Yoshihide Suga terkait kali pertama Tokyo mencapai kasus harian tembus 5 ribu, dikutip dari Huffington Post, Jumat (6/8/2021).

"Infeksi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah kita alami sebelumnya," lanjutnya.

Suga dikritik oleh sejumlah pihak lantaran bersikeras menyelenggarakan Olimpiade Tokyo di tengah situasi pandemi COVID-19 yang memburuk. Namun menurut Suga, tak ada bukti bahwa olimpiade yang berlangsung pada 23 Juli hingga 8 Agustus memicu lonjakan kasus COVID-19.

Tak terlepas dari andil varian Delta

Para ahli di panel pemerintah metropolitan Tokyo memperingatkan, lonjakan kasus COVID-19 Tokyo tak terlepas dari infeksi varian Delta yang lebih eksplosif, menyebabkan penambahan kasus baru lebih dari 10.000 dalam 2 minggu.

Jepang sempat berhasil menjaga jumlah kasus dan kematian lebih rendah daripada sebagian besar dunia. Namun kini di Tokyo, lebih dari 14.000 pasien bergejala ringan saat ini melakukan isolasi diri di rumah, meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dari bulan lalu. Sekitar 8.400 lainnya dirawat di rumah sakit atau hotel khusus.

Suga baru-baru ini mengeluarkan kebijakan baru, di mana pasien bergejala ringan diminta isoman di rumah. Dengan tujuan, rumah sakit hanya dialokasikan pasien COVID-19 bergejala serius.

Anggota parlemen oposisi mengkritik Suga lantaran tidak meningkatkan kapasitas rumah sakit secara memadai meski peringatan terkait varian Delta sudah diberikan.



Simak Video "Jumlah Virus Varian Delta 1620 Kali Lebih Tinggi dari Varian Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)