Sabtu, 07 Agu 2021 05:24 WIB

Varian Delta Makin Mendominasi, Apa Kabar Herd Immunity?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Corona virus under magnifying glass. Observation made by virologists in the laboratory with microscope.  Red heart shaped coronavirus being mutated through genome modification. 3D rendering. Foto: Getty Images/iStockphoto/Stockcrafter
Jakarta -

Saat ini, varian Delta (B1617.2) mendominasi penularan COVID-19 di dunia. Varian yang pertama kali terdeteksi di India ini disebut sangat berbahaya dan lebih menular dibandingkan varian aslinya.

Jika varian Delta sudah mendominasi di dunia, masih mungkinkah herd immunity dicapai dengan vaksinasi?

Herd immunity atau kekebalan kelompok merupakan salah satu cara yang bisa membantu melindungi dan mengurangi penularan di populasi manusia. Hal itu bisa terbentuk saat persentase tertentu dari populasi sudah divaksinasi atau memperoleh kekebalan dari infeksi sebelumnya.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan herd immunity Corona harus dicapai dengan melindungi orang melalui vaksinasi, bukan dengan memaparkan masyarakat pada patogen penyebab penyakit.

Menurut Infectious Disease Society of America, penyebaran varian Delta telah menyebabkan perubahan pada ambang batas herd immunity. Jika sebelumnya hanya butuh 60-70 persen populasi, kini menjadi 80 hingga 90 persen untuk bisa mencapai herd immunity.

"Itu jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yaitu sebesar 60 hingga 70 persen, karena varian Delta dua kali lebih mudah menular," kata asisten profesor di University of Alabama, Birmingham, Profesor Richard Franco yang dikutip dari Strait Times, Kamis (5/8/2021).

"Menjadi jelas bahwa ini adalah virus yang sangat berbahaya, jauh lebih berbahaya daripada yang asli," lanjutnya.



Simak Video "Kemenkes Sebut Varian Delta di Indonesia Didominasi AY.23"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)