Sabtu, 21 Agu 2021 05:26 WIB

Pilih Mana, Harga Tes PCR Diturunkan atau Tes Gratis Diperbanyak?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan agar harga tes PCR diturunkan. Jokowi meminta agar biaya tes PCR di kisaran Rp 450-550 ribu. Foto: Antara Foto
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah menetapkan harga tertinggi tes PCR (polymerase chain reaction) yang baru, yakni Rp 495 ribu untuk Jawa-Bali dan Rp 525 ribu untuk luar Jawa-Bali. Harga baru ini berlaku untuk tes mandiri yang dilakukan atas permintaan sendiri.

"Hasil pemeriksaan real time PCR dengan besaran tarif tertinggi tersebut dikeluarkan dengan durasi maksimal 1x24 jam dari pengambilan swab real time PCR," tegas Direktur Jendral Pelayanan Kesehatan Prof dr Abdul Kadir, PhD, SpTHT-KL(K), MARS saat mengumumkan perubahan tarif tersebut, Senin (16/8/2021).

Dalam surat edarannya, Kemenkes menegaskan harga baru ini tidak berlaku untuk kegiatan penelusuran kontak (contact tracing) atau rujukan kasus COVID-19. Untuk kebutuhan ini, tes PCR tetap tidak dikenai biaya alias gratis.

Tes PCR gratis dalam rangka contact tracing inilah yang menurut para relawan juga harus ditingkatkan, baik jumlah maupun kecepatannya. Amanda Tan, relawan dari LaporCovid-19, menyoroti penelusuran kontak yang dinilainya belum merata.

"Memang jumlah testing yang terjadi sekarang masih fokus di pulau Jawa-Bali. Bahkan Jakarta menjadi salah satu provinsi yang melampaui batas minimum dari standar PCR testing yang diajukan provinsi untuk kemudian dieksekusi oleh masing-masing provinsi," ujar relawan Lapor COVID-19, Amanda Tan, dalam diskusi daring, Jumat (20/8/2021).

"Kemudian apakah hasil positif tersebut sudah menggambarkan spesimen yang diperiksa? Saya rasa ada kasus under reporting, di mana bisa saja ada klaster tidak diperiksa, kemudian tidak dilaporkan kepada dinkes dan faskes terkait," lanjutnya.

Terkait pembatasan mobilitas warga yang mulai dilonggarkan, turunnya harga tes PCR mandiri juga perlu dibarengi dengan penelusuran kontak atau testing gratis yang lebih memadahi. Pasalnya, mobilitas tinggi bagaimanapun akan meningkatkan risiko penularan.

"Kami juga perlu mencatat bahwa Jawa-Bali ini dicanangkan sebagai wilayah yang akan dikendorkan pembatasannya dan ini kemudian bisa berakibat kepada testing bisa dilonggarkan," beber Amanda.

"Kami tetap terus menyuarakan agar testing tetap 1 (dari) 1.000 penduduk, bahkan kalau kasusnya naik harus ditingkatkan lagi sesuai dengan rasio 1 per 1.000 sehingga bisa menekan rasio positif hingga kurang dari 5 persen," pungkasnya.

Punya pengalaman tentang tes PCR mandiri maupun tes PCR gratis dalam rangka rujukan atau contact tracing? Bagikan di komentar.



Simak Video "PCR Rp 300 Ribu, Menkes: Termurah dan Tidak Ada Subsidi Pemerintah"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)