5 Fakta Badai Sitokin, Deddy Corbuzier Juga Kena Nih

ADVERTISEMENT

5 Fakta Badai Sitokin, Deddy Corbuzier Juga Kena Nih

Ayunda Septiani - detikHealth
Minggu, 22 Agu 2021 17:03 WIB
Deddy Corbuzier di kawasan Kemang
Deddy Corbuzier mengaku mengalami badai sitokin akibat COVID-19 (Foto ilustrasi: Noel/detikHOT)
Jakarta -

Deddy Corbuzier terinfeksi COVID-19 dan mengalami badai sitokin. Bercerita di podcast YouTube-nya, Deddy menjelaskan bahwa dia mengalami demam hingga 40 derajat celcius dan vertigo setelah dua minggu saat sudah dinyatakan negatif.

"Something is wrong, saya CT toraks ke RSPAD pada saat itu. Ternyata ada kerusakan, hitungannya itu 30, saya nggak ngerti 30 persen atau apa,," jelas Deddy Corbuzier, dalam dari podcast di kanal YouTube-nya, Minggu (22/8/2021).

1. Apa sih badai sitokin itu?

Badai sitokin merupakan kondisi respons imun tubuh yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi. Sitokin adalah protein yang mengomunikasikan sinyal-sinyal di tubuh untuk merespons infeksi.

Dalam kondisi normal, sitokin membantu mengkoordinasikan respons sistem kekebalan untuk menangani zat menular, seperti virus atau bakteri. Masalahnya adalah terkadang respons peradangan bisa lepas kendali, menyebabkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan pada tubuh.

2. Penyebab badai sitokin

Hingga kini belum diketahui penyebab pasti dari badai sitokin. Namun, para ahli menduga sistem kekebalan sendirilah yang menyebabkan kondisi parah pada sebagian pasien.

Sistem kekebalan yang seharusnya berfungsi menjaga melawan infeksi, dalam kondisi ini malah membuat kondisi penyakit yang diidap semakin parah.

"Biasanya, sitokin bekerja untuk membantu tubuh kita dalam jumlah sedang. Namun pada kondisi tertentu, di mana jumlahnya menjadi terlalu banyak, sistem kekebalan malah menyebabkan kerusakan pada tubuh pasien," papar profesor di divisi penyakit menular di University of Cincinnati College of Medicine, Carl Fichtenbaum, MD, dikutip dari Health, Jumat (7/5/2021).

3. Bisa dialami pada COVID-19

Dalam beberapa kasus, sindrom badai sitokin inilah yang menyebabkan kondisi amat parah pada pasien COVID-19, bahkan dalam waktu yang singkat.

"Kami melihat orang-orang sepanjang adanya penyakit ini (COVID-19), tubuhnya merespons dengan hiperinflamasi. Ini adalah aliran sitokin yang memengaruhi paru-paru, jantung, dan ginjal pasien. Kondisi tubuh mereka merespons secara berlebihan ini mirip dengan cara pasien kanker merespons infeksi," jelas dokter di RS Houston Methodist, Deepa Gotur, MD.

4. Dampak badai sitokin

Pengidap badai sitokin yang terinfeksi COVID-19 bisa mengalami demam dan sesak napas yang kemudian berpotensi menjadi beragam komplikasi pernafasan lainnya. Biasanya, komplikasi ini timbul 6 hingga 7 hari setelah infeksi COVID-19.

5. Gejala badai sitokin

Badai sitokin dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda. Terkadang ini hanya gejala ringan seperti flu. Di lain waktu, gejalanya bisa parah dan mengancam jiwa. Gejala mungkin termasuk:

  • Demam dan menggigil
  • Kelelahan
  • Pembengkakan pada ekstremitas
  • Mual dan muntah
  • Nyeri otot dan persendian
  • Sakit kepala
  • Ruam
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Nafas cepat
  • Kejang
  • Menggigil
  • Kesulitan mengkoordinasikan gerakan
  • Kebingungan dan halusinasi
  • Kelesuan dan daya tanggap yang buruk

Badai sitokin pada pasien COVID-19 sering kali tidak memperlihatkan tanda-tandanya dan tidak selalu terjadi pada setiap orang. Beberapa kelompok mungkin lebih rentan mengalami badai sitokin jika memiliki gen yang membuat sistem kekebalan mereka bekerja dengan reaksi tertentu, misalnya memiliki autoimun.



Simak Video "99% Warga RI Kebal Covid-19, Kemenkes: Kuncinya Kelengkapan Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT