Senin, 23 Agu 2021 13:02 WIB

Diamuk Varian Delta Usai Berbulan-bulan Bebas Corona, Negara Ini Ubah Strategi

Ayunda Septiani - detikHealth
People ride an elevators at a shopping mall after restrictions requiring face masks indoors was lifted, in Tel Aviv, Tuesday, June 15, 2021. Israel lifted one of its last coronavirus restrictions Tuesday following a highly successful vaccination campaign. (AP Photo/Oded Balilty) Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: AP/Oded Balilty)
Jakarta -

Pemerintah Selandia Baru mengatakan akan mengubah strategi pengendalian COVID-19 karena kembali menghadapi wabah baru akibat varian Delta.

Hal ini disampaikan oleh COVID-19 Response Minister, Chris Hipkins. Varian Delta membuat upaya perlindungan mereka setelah berbulan-bulan bebas Corona seolah kurang memadai.

Ucapan Hipkins muncul usai Minggu (22/8/2021) kemarin, Selandia Baru melaporkan 21 kasus baru Corona.

Dikutip dari laman BBC, selama ini Selandia Baru menangani virus Corona dengan penerapan karantina wilayah yang cepat dan ketat.

Perdana Menteri Jacinda Ardern selalu menyebut mereka adalah tim berisikan lima juta jiwa, dan dipuji karena bisa menangkal penyebaran COVID-19.

Berdasarkan data Universitas Johns Hopkins, total terdapat 3.016 kasus COVID-19 dengan 26 di antaranya meninggal.

Namun baru-baru ini, pemerintah kembali menerapkan lockdown karena adanya satu kasus varian Delta yang ditemukan di Auckland.

Hingga kini terdapat 72 kasus aktif Corona varian Delta dengan tujuh sekolah melaporkan adanya transmisi di antara para murid. Bahkan, pemerintah negara tersebut juga mengumumkan adanya enam kasus yang mereka temukan di ibu kota, Wellington.

Pemerintah kini menyatakan mereka berencana memperpanjang lockdown di Auckland, yang bakal berakhir Selasa (24/8/2021).

Berbicara kepada awak media setempat, Hipkins menerangkan strategi 'nol kasus' Corona masih menjadi target utama pemerintah.

"Kenyataan bahwa virus bisa menular 24 jam di seseorang benar-benar mengubah permainan," kata Hipkins dalam sesi tanya jawab.

Selain itu, dia juga menjelaskan keberadaan varian yang pertama terdeteksi di India tersebut membuat penanganan mereka dipandang kurang memadai.

Hipkins mengakui dengan cepatnya penyebaran, pemerintahan Ardern harus kembali ke meja dan mendiskusikan rencana baru.



Simak Video "Seputar Varian 'Delta Plus' AY.4.2 yang Tengah Diinvestigasi Inggris"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/naf)