Selasa, 24 Agu 2021 05:31 WIB

Kasus COVID-19 Turun tapi Kematian Tetap Tinggi, Kenapa?

Prof Tjandra Yoga Aditama - detikHealth
Lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air dinilai sebagai tanda Indonesia kini tengah hadapi gelombang kedua Corona. Akibat hal itu, zona merah pun bertambah. Ilustrasi (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Dalam hari-hari sesudah peringatan kemerdekaan ke-76 pada 17 Agustus 2021 maka secara umum jumlah kasus baru harian COVID-19 menurun, antara lain karena pelaksaan PPKM sejak awal Juli 2021 yang lalu. Tetapi di sisi lain kita lihat angka kematian yang masih tinggi.

Laporan pada 17 Agustus 2021 menunjukkan ada 1.180 warga Indonesia yang wafat dalam sehari dan angka rata-rata kematian 7 hari adalah 1.342 orang. Sesudah itu angkanya juga masih terus tinggi, 1.128 yang wafat di laporan 18 Agustus, meningkat lagi menjadi 1.492 yang meninggal di tanggal 19 Agustus dan menjadi 1.348 di 20 Agustus 2021, dengan angka kematian rata-rata 7 hari sejumlah 1.269 orang.

Perlu kita ingat bahwa pada awal PPKM darurat diberlakukan pada 3 Juli 2021, maka yang wafat hari itu adalah 493 orang dengan angka kematian rata-rata 7 hari sejumlah 471 orang.

Sementara itu, data WHO pada 17 Agustus 2021 dilaporkan ada 7.699 orang yang meninggal sehari di dunia. Sampai 20 Agustus 2021 ada 4.400.284 yang wafat akibat COVID-19 di seluruh dunia.

Case Fatality Rate (CFR) Indonesia negara tetangga ASEAN dan beberapa negara lain adalah sebagai berikut, yaitu Indonesia 3,2 persen, Malaysia 0,9 persen. Thailand 0,9 persen, Kamboja 2,0 persen, Vietnam 2,2 persen, Singapura 0,1 persen, Laos 0,1 persen, Myanmar 3,8 persen, Timor Leste 0,3 persen, Korea Selatan 0,9 persen, USA 1,7 persen dan India 1,3 persen.

Tentang kasus yg relatif sudah menurun tetapi angka kematian tetap tinggi, maka setidaknya ada tujuh penjelasan.

Yang pertama, tentu sebaiknya dibuat analisa mendalam dulu ttg kematian, dalam 2 aspek, yaitu pola kematian di masyarakat, di mana meninggalnya, apakah sudah ke RS, apakah ada komorbid, apakah dalam konsultasi dengan tenaga kesehatan, dll., serta dianalisa penyebab kematian ("cause of death - COD") di RS sesuai "International Classification of Diseases (ICD)". Dengan ke dua analisa mendalam ini maka penanganan selanjutnya akan lebih baik, katakanlah sesuai prinsip "evidence-based decision making process".

Penjelasan kedua, dengan angka kematian sekitar 3 persen sekarang ini maka masih tingginya yang meninggal juga terjadi karena masih tingginya jumlah kasus di masyarakat, sehingga persentase yang meninggal juga masih tinggi.

Kemungkinan penjelasan ketiga, kenyataan bahwa masih tingginya angka penularan di masyarakat, ditandai dengan angka kepositifan sekitar 20 persen, 4 kali lebih tinggi dari angka WHO dan hampir 10 kali lebih tinggi dari India.

Penjelasan keempat, pada yg isolasi mandiri di rumah atau fasilitas isoter (isolasi terpadu) maka bukan tidak mungkin perburukan terjadi bukan hanya karena COVID-19 tapi juga adanya ko-morbid yang tidak terkontrol baik. Karena itu pada mereka yang dirawat/diisolasi di luar rumah sakit maka ada 4 hal yang harus dilakukan. Ke satu, harus memeriksa gejala, suhu dan saturasi oksigen pagi dan sore. Ke dua, melakukan pola hidup bersih sehat, termasuk makan bergizi, aktivitas fisik dan mengelola stress dll. Ke tiga, melakukan komunikasi secara teratur dengan petugas kesehatan. Ke empat, tentang obat, maka ada dua hal, yaitu obat untuk menangani ko-morbidnya kalau ada dan juga kalau memang diperlukan vitamin atau obat tertentu untuk COVID-19 ya, yang tentunya harus dalam pengawasan tenaga kesehatan.

Penjelasan kelima, pada yang dirawat di RS, angka kematian dapat terjadi karena keadaan pasien yang sudah berat ketika masuk RS, dan atau mungkin juga faktor-faktor lain di RS.

Penjelasan keenam adalah masih belum tercapainya target tes yg 400 ribu sehari dan telusur yang 15 kontak per kasus positif, sehingga belum semua kasus kasus yang ada di masyarakat yang terdeteksi sehingga bukan mungkin jadi tidak ditemukan secara dini.

Sementara itu, kemungkinan penjelasan ketujuh masih tingginya angka kematian adalah karena masih rendahnya cakupan vaksinasi, yang masih sekitar 15 persen.

Semoga jumlah yang wafat akibat COVID-19 kematian di negara kita dapat segera ditekan, dan ini harus jadi prioritas utama sekarang ini !

Mantan Direktur Perlindungan Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama.Prof Tjandra Yoga Aditama Foto: dok. Pribadi

)* Penulis adalah Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes



Simak Video "Temuan Seputar Varian Omicron yang Perlu Jadi Perhatian"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)