Baru-baru ini, ramai kabar pandemi COVID-19 di Indonesia berpotensi menjadi hiperendemi. Hal tersebut mengacu pada tingginya positivity rate, penurunan jumlah testing, dan rendahnya penerapan protokol kesehatan di Indonesia.
Ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), dr Masdalina Pane, menjelaskan Indonesia sebenarnya sudah pernah mengalami hiperendemi akibat Tuberkulosis (TB atau TBC). Mengingat, setiap tahunnya Indonesia masuk tiga besar negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia.
"Terkait statement bahwa kita akan hidup bersama COVID, bukan hal yang baru. Ribuan tahun manusia hidup dengan penyakit menular, bahkan 17 bulan ini kita sudah hidup bersama COVID-19. Biasa saja itu, bukan sesuatu yang aneh," ujarnya pada detikcom, Kamis (26/8/2021).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pemerintah Indonesia memerlukan road map atau perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang. Tak hanya untuk COVID-19, melainkan juga untuk seluruh penyakit yang berpotensi mewabah, seperti TBC.
Dalam road map tersebut, perlu ada pencapaian yang jelas terkait target bidang kesehatan. Misalnya, perihal kapan Indonesia bisa memproduksi alat tes dan vaksin COVID-19 secara mandiri. Selain itu, fasilitas kesehatan juga harus mencapai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Dalam road map itu harus berisi apa yang harus dilakukan masyarakat, artinya kalau kita masih hiperendemi maka pembatasan-pembatasan masih akan tetap ada. Kemudian 3M masih harus tetap dilakukan, 3T masih harus tetap berjalan," jelas dr Pane.
"Bukan sekedar membuat aplikasi, membuat protokol-protokol kesehatan saja, selama ini sudah banyak sekali protokol yang dibuat. Pertanyaannya apakah dilaksanakan atau hanya sekedar protokol saja," lanjutnya.
Ia menambahkan, pengendalian pandemi harus mengacu pada jumlah kasus, positivity rate, angka rawat, kematian, serta temuan vaksin dan obat.
(vyp/up)











































