Senin, 30 Agu 2021 13:31 WIB

Duduk Perkara 'Turki Pesan Vaksin Nusantara', Telanjur Heboh Eh Dibantah Dubes

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Anggota Komisi IX Ribka Tjiptaning dari Fraksi PDIP berbicara soal singkatan korona yakni komunitas rondo mempesona. Eks Menkes Terawan Agus Putranto. (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta -

Heboh kabar vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto dibeli oleh Pemerintah Turki. Kabar ini pertama kali diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Prof Chairul Anwar Nidom.

Awalnya, Prof Nidom dalam dialog di kanal Youtube Siti Fadilah Supari, Kamis (19/8/2021), menyampaikan bahwa vaksin Nusantara akan dipesan Turki sebanyak 5,2 juta dosis. Disebutkan juga pemerintah Turki menawarkan uji klinis fase 3 vaksin Nusantara di negara tersebut.

Kabar ini juga dikonfirmasi oleh Prof Nidom dalam wawancara dengan kantor berita ANTARA. Dalam wawancara tersebut, ia mengaku mendapat informasi dari Terawan mengenai keinginan Turki membeli vaksin Nusantara.

"Yang jelas, memang luar negeri sudah ada yang minat. Saya dapat informasi dari Dokter Terawan (penggagas vaksin Nusantara) bahwa ada keinginan dari negara Turki membeli vaksin Nusantara," katanya melalui sambungan telepon kepada ANTARA, Rabu (25/8/2021).

Kabar vaksin Nusantara dipesan Turki disinggung anggota DPR

Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PAN, Saleh Daulay, menyinggung kabar vaksin Nusantara diminati Turki. Dalam rapat kerja bersama Menteri Kesehatan yang juga dihadiri Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito, Saleh menyebutkan produk besutan Terawan dibeli oleh negara lain dan sementara di Indonesia malah ditolak.

"Saya membaca di media vaksin Nusantara ini sekarang lagi dipesan oleh Turki sebesar 5 koma sekian juta. Sementara di Indonesia di republiknya ini itu ditolak. Itu ada di media, Ibu Penny, nggak usah goyang kepala. Itu ada di media," kata Saleh.

Saleh juga menyingung integritas BPOM yang diniai mempersulit perizinan vaksin Nusantara.

Kemenkes angkat bicara

Setelah heboh kabar vaksin Nusantara dipesan Turki, juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa vaksin Nusantara tidak dapat dikomersialkan lantaran autologus atau bersifat individual.

"Sel dendritik bersifat autologus artinya dari materi yang digunakan dari diri kita sendiri dan untuk diri kita sendiri, sehingga tidak bisa digunakan untuk orang lain. Jadi, produknya hanya bisa dipergunakan untuk diri pasien sendiri," kata dr Nadia.

Meski demikian, dr Nadia mengungkapkan vaksin Nusantara masih bisa diakses oleh masyarakat dalam bentuk pelayanan berbasis penelitian secara terbatas.

Belakangan, muncul bantahan dari duta besar RI untuk Turki. Selengkapnya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Lihat Lagi Klaim Terawan Soal Vaksin Nusantara Diakui Dunia"
[Gambas:Video 20detik]