Kamis, 02 Sep 2021 08:00 WIB

Korban Broadcast, Mondar-mandir Berburu Vaksin COVID-19 Tak Kunjung Dapat

Vidya Pinandhita - detikHealth
Vaksin door to door gencar dilakukan sebagai langkah percepatan vaksinasi. Jelang HUT RI, aktivitas ini kental dengan nuansa kemerdekaan. Ilustrasi vaksin COVID-19. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan mengklaim vaksinasi COVID-19 RI sudah mencapai 100 juta suntikan tepat pada 31 Agustus 2021. Meski demikian, masih banyak warga mengeluh tak bisa mendapatkan vaksin bahkan untuk dosis pertama.

Misalnya AD (47) asal Surabaya, mondar-mandir ke Puskesmas dan lokasi vaksinasi tak kunjung membuatnya berhasil disuntik lantaran antrean membludak dan selalu kehabisan stok.

"Saya pernah ke Puskesmas untuk vaksin dosis pertama. Ada dua Puskesmas yang pernah saya datangi tapi semuanya tidak bisa karena tidak ada stok buat dosis pertama," ujarnya pada detikcom, Rabu (1/9/2021).

Setelah itu, ia mendatangi salah satu rumah sakit pukul 5.30 pagi hari. Namun sama seperti pengalaman sebelumnya, ia terpaksa batal divaksin karena sekitar pukul 13.00 lokasi sudah kehabisan stok. Padahal, banyak warga yang sudah mengantre sejak dini hari demi bisa divaksin.

"Pernah juga ke Polres pelabuhan Tanjung Perak datang jam setengah 10 pagi tapi setengah empat sore sudah habis padahal masih banyak orang yang belum divaksin. Termasuk saya," ujar AD.

Korban kesimpang-siuran broadcast message

Informasi tentang lokasi vaksinasi sebenarnya banyak bertebaran di media sosial maupun jejaring WhatsApp atau kerap disebut 'dark social'. Sayangnya, kadang-kadang informasi yang berlimpah itu justru menyesatkan karena tidak semuanya terverifikasi.

AD juga mengalaminya, ia sempat mendatangi salah satu lokasi vaksinasi yang diinformasikan melalui pesan sebaran pesan di WhatsApp. Namun setibanya di lokasi, lagi-lagi ia dan sejumlah pendatang lain ditolak lantaran belum mengisi form online. Ia menyayangkan, sama sekali tak ada informasi terkait cara pendaftaran dalam pesan beredar.

"Petugas kepolisian (di lokasi vaksinasi) pun sampai heran dengan kedatangan kami. Mereka bertanya informasi yang kami dapatkan itu dari mana, seolah-olah mereka tidak tahu menahu ada informasi hoax yang disebarkan lewat WhatsApp Group," ujar AD.

Ia berharap, masyarakat bisa mendapatkan informasi lebih jelas terkait vaksinasi COVID-19. Ia khawatir jika pengalaman ditolak vaksin terus-menerus terjadi, banyak orang akan trauma dan surut semangat untuk divaksin.

"Kalau saya boleh menyarankan sebaiknya semua informasi tentang vaksin itu melewati satu pintu. Jadi orang mencari info vaksin bisa mudah dan untuk menghindari adanya informasi hoax," pungkas AD.



Simak Video "Komnas KIPI: Efek Vaksin Covid-19 Lebih Banyak Dialami Anak Muda"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)