Jumat, 03 Sep 2021 07:44 WIB

Satgas: Pasien COVID Cepat ke Isoter, Makin Cepat Tertangani

Nurcholis Maarif - detikHealth
Tempat isolasi terpusat Asrama Haji Donohudan Boyolali akan dijadikan sebagai RS darurat COVID-19. Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Masyarakat Indonesia yang terpapar virus Corona disarankan untuk melapor dan datang ke isolasi terpusat (isoter) yang disediakan pemerintah. Ini sebagai langkah antisipasi kondisi yang semakin buruk hingga penularan ke yang lain.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Brigjen TNI (P) dr. Alexander Kaliaga Ginting menjelaskan saat ini Indonesia berhadapan dengan virus yang selalu bermutasi dan berevolusi. Virus yang dihadapi 2 bulan sebelumnya belum tentu sama dengan apa yang kita hadapi di bulan ini.

"Dan ternyata dari hasil kajian laboratorium, banyak terjadi varian baru, salah satunya delta dan kemudian ada varian lainnya yang dilaporkan Kemenkes," ujarnya dalam webinar 'Strategi Isolasi Terpusat Minimalisir Fatalitas Akibat Covid-19' yang disiarkan YouTube BNPB Indonesia, Kamis (2/9/2021).

"Jika ada warga yang positif, yang selama ini mereka banyak isoman, oleh karena adanya varian baru ini kita menganjurkan supaya pindah ke isolasi yang terpusat. Kenapa? karena kalau di isoman itu pendeteksian dan pendampingannya kurang, sementara kecepatan dan percepatan virus baru ini untuk menerobos ke sel-sel yang sehat itu lebih cepat," jelasnya.

Menurut dr Alexander, efek dari isoman dan telatnya penanganan ialah gejala yang bisa memburuk dengan cepat. Apalagi kalau pasien mempunyai komorbid dan tidak menyadari saturasinya sudah turun.

"Sehingga saat terjadi perburukan, ada badai sitokin, dibawa ke rumah sakit, kemudian sudah langsung masuk ICU. Tapi kalau dipindahkan ke isoter, tentu ini ada deteksi dini dan kemudian ada pendampingan," ujarnya.

"Apalagi sekarang dari pihak TNI/Polri dan kemudian Kemenkes sudah menyiapkan obat-obat paket. Dan kemudian di isoter ini ada tim medik yang mengantisipasi tersebut. Kalaupun terjadi perburukan akan segera dibawa ke rumah sakit rujukan," imbuhnya.

Oleh karena itu, kata dr Alexander, Satgas Penanganan COVID-19 Nasional saat ini tengah memperkuat posko PPKM di desa dan kelurahan. Mereka inilah yang bertanggung jawab mensosialisasikan ke warga agar bila mereka positif, untuk melaporkan diri dan tidak perlu khawatir.

"Jika mereka berjalan dan kemudian ada komorbid, segera ditarik ke isoter. Semakin cepat ke isoter, semakin cepat akan ditangani dan perburukan bisa kita hindari. Ini mungkin konsepnya sehingga posko PPKM menjadi penggerak warga yang sakit segera ke isoter, jangan ke isoman," ujarnya.

"Sebab isoman juga punya kelemahan apabila rumahnya tidak memadai maka ini juga salah satu berpotensi naiknya klaster keluarga. Maka tidak heran bila dalam satu wilayah angka positif jadi tinggi karena penularan dari isoman tersebut. Satu rumah kemudian dia tidak melakukan prokes dan menularkan," pungkasnya.

(ncm/ega)