Jumat, 03 Sep 2021 11:04 WIB

Varian Mu Sudah Sampai Jepang, Kemenkes: di RI Belum Terdeteksi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Colombia coronavirus invasion crisis abstract cover background. Government virus response, action, protection, awareness, threat handling, and prevention. Varian Mu. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Darryl Fonseka)
Jakarta -

Varian Mu sudah menyebar ke 40 negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan varian ini sebagai variant of interest.

Varian yang juga dikenal dengan strain B1621 diwanti-wanti WHO memiliki potensi 'kebal' vaksin. Baru-baru ini, Jepang juga sudah melaporkan kasus pertama varian Mu. Bagaimana di Indonesia?

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengungkap varian baru Corona di Indonesia masih didominasi varian Delta. Sekitar 90 persen dari hasil genome sequencing terbaru adalah varian Delta.

"Belum terdeteksi ya (varian Mu di Indonesia). ini sementara masuk ke variant of interest oleh WHO," jelas dr Nadia kepada detikcom Kamis (3/9/2021).

Meski begitu, dr Nadia menegaskan pemantauan terkait varian baru yang masuk ke Indonesia terus ditingkatkan dengan menambah jumlah sampel yang disequens setiap harinya. Sejauh ini, varian baru Corona yang masuk Indonesia selain varian Delta adalah varian Beta, varian Alpha.



Dikutip dari Japan Times, tepatnya Rabu kemarin kasus varian Mu diidentifikasi dari dua orang kedatangan di bandara. Adalah wanita berusia 40 tahun yang tiba di 26 Juni, datang dari Uni Emirat Arab, dan kasus lainnya wanita usia 50-an yang tiba 5 Juli, perjalanan dari Inggris.

Kedua wanita tersebut tidak menunjukkan gejala pada saat kedatangan. Padahal, semua pelancong ke Jepang harus mengikuti tes PCR saat kedatangan dan menunggu hasil negatif, jika positif mereka akan dirawat di RS tergantung pada gejalanya.

Bahkan jika hasil tesnya negatif, mereka wajib dikarantina selama 14 hari di rumah atau fasilitas yang ditunjuk tergantung dari mana mereka berasal.

Masih belum jelas apakah varian Mu lebih mudah menular seperti varian Delta. Namun dalam sebuah pernyataan yang dirilis Selasa lalu, WHO memperingatkan bahwa varian tersebut memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan pasca divaksinasi.

Artinya, antibodi pasca divaksinasi mungkin tidak bekerja dengan baik terhadap varian Mu seperti pada versi asli virus corona.

Dalam laporan mingguan WHO, data awal menunjukkan penurunan efektivitas vaksin terhadap varian Mu mirip dengan yang terlihat untuk varian Beta, varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan dan dianggap lebih menular daripada virus Corona asli.

Saat ini, WHO menetapkan varian Aplha, Beta, Gamma, dan Delta sebagai variant of concern, klasifikasi tertinggi yang diwaspadai. Varian Mu pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari dan saat ini menyumbang sekitar 40 persen kasus di negara itu, menurut WHO.

"Mutasi sejauh ini telah terdeteksi di setidaknya 40 negara, tetapi jumlahnya kurang dari 0,1 persen dari semua kasus di seluruh dunia," kata WHO.

WHO juga mengatakan bahwa sejak varian pertama kali diidentifikasi, ada beberapa laporan sporadis infeksi dengan varian Mu dan bahkan beberapa wabah yang lebih besar di negara lain seperti Amerika Selatan dan Eropa.

Pengumuman kementerian kesehatan mengikuti laporan baru-baru ini tentang sublineage baru dari varian Delta yang muncul di Jepang pada pertengahan Agustus. Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, telah menjadi varian paling umum di dunia termasuk Jepang. Sejauh ini, varian Alpha, beta, Delta, Kappa, Gamma, Lambda dan varian Mu telah dikonfirmasi di Jepang.



Simak Video "Beda Virus Corona Varian Mu dan Delta"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)