Kamis, 09 Sep 2021 13:01 WIB

IDAI: KIPI Vaksin COVID-19 pada Anak Cenderung Ringan

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Vaksinasi COVID-19 anak di Surabaya sudah mencapai 60 ribu lebih untuk dosis pertama. Jenis vaksin yang disuntikkan kepada pelajar usia di atas 12 tahun yakni Sinovac. IDAI menyebut tidak ada KIPI yang berat pada anak usai divaksinasi COVID-19. (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Jakarta -

Di tengah kasus COVID-19 yang tengah melandai, pemerintah mulai memperbolehkan pembelajaran sekolah tatap muka (PTM) di beberapa daerah di Indonesia. PTM diterapkan dengan berbagai aturan, seperti menaati protokol kesehatan hingga sudah melakukan vaksinasi COVID-19.

Tak hanya pihak guru, para murid yang berusia 12-17 tahun juga mulai disarankan untuk melakukan vaksinasi Corona sebelum tatap muka. Namun, masih banyak orang tua yang khawatir akan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang mungkin muncul usai divaksin.

Menanggapi ini, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Yogi Prawira, SpA(K), menjelaskan bahwa KIPI itu ada dan mungkin saja terjadi.

"KIPI itu ada. Kalau misalnya anak disuntik, maka rIsikonya dia bisa bengkak di tempat suntikan, bisa demam, dan itu terjadi," kata dr Yogi dalam live di Instagram, Kamis (9/9/2021).

dr Yogi mengungkapkan bahwa vaksinasi COVID-19 untuk anak masih tergolong aman. Hal ini dibuktikan dari sebuah penelitian yang membandingkan anak yang disuntik dengan vaksin Sinovac dan plasebo.

Hasilnya, sekitar 22 persen anak yang disuntik vaksin Sinovac mengalami KIPI yang ringan, seperti bengkak atau demam. Sementara anak-anak yang disuntik dengan plasebo, sekitar 20 persen juga mengalami efek yang serupa, yaitu demam dan nyeri di tempat suntikan.

"Jadi vaksin inactivated ini KIPI-nya yang paling ringan. Belum ada laporan kalau ada KIPI yang berat atau serius pada anak-anak pasca divaksin," ungkap dr Yogi.

"Sementara, sekitar 1 dari 5 anak yang terinfeksi COVID-19 di Indonesia saat dirawat berisiko masuk ICU. Belum lagi dia terkena kondisi COVID yang berat, sampai butuh alat bantu napas," imbuhnya.

Ia juga mengatakan meski anak-anak yang terinfeksi hanya mengalami sakit yang ringan, mereka masih dihantui risiko yang bisa muncul pasca COVID-19. Salah satunya adalah risiko Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C).

"Tapi, pasca infeksi kira-kira 2-4 minggu kemudian, dia timbul demam tinggi dan peradangan, ini yang kita bilang Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C). Dan ini kita sudah mulai temukan sampai ada mengalami gangguan fungsi jantung," pungkasnya.



Simak Video "Tanggapan Ibu-ibu soal Wacana Siswa Pakai Aplikasi PeduliLindungi"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)