Kamis, 09 Sep 2021 19:08 WIB

Beredar Mitos Vaksin COVID-19 Bikin Mandul-Ubah DNA, Ini Kata Pakar

Khoirul Anam - detikHealth
The covid-19 vaccine is injected into a young womans hand. Foto: Getty Images/iStockphoto/fpphotobank
Jakarta -

Kabar hoaks dan mitos mengenai vaksin banyak beredar di masyarakat, terutama melalui media sosial. Akibat adanya mitos tersebut, masyarakat pun enggan melakukan vaksinasi.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya itu. Ahli vaksin yang berspesialisasi dalam bidang epidemiologi pneumokokus, dr. Katherine O'Brien pun memberi penjelasan agar masyarakat tidak termakan mitos soal vaksin COVID-19. Apa saja mitos-mitos tersebut? Berikut penjelasannya.

1. Menimbulkan Kemandulan

Kabar vaksin COVID-19 menyebabkan kemandulan pertama kali muncul pada Desember tahun lalu. Vaksin COVID-19 yang disuntikkan disebut akan menimbulkan risiko infertilitas atau kesuburan bagi penerimanya. Gangguan tersebut berupa kemandulan bagi para wanita.

"Ini adalah rumor yang telah beredar tentang banyak vaksin yang berbeda dan rumor tersebut tidak benar. Tidak ada vaksin yang menyebabkan kemandulan," kata Kate dalam sesi wawancara Episode 24 tentang Vaccine myths vs science Bersama WHO seperti dikutip dari laman covid19.go.id, Kamis (9/9/2021).

2. Mengubah DNA

Vaksin COVID-19 yang masuk ke dalam tubuh disebut akan mengubah materi DNA. Secara tegas, Kate mengatakan hal ini tidak memungkinkan.

"Kami sudah sering mendengar rumor ini. Kami memiliki dua vaksin sekarang yang disebut sebagai vaksin mRNA, dan tidak mungkin mRNA dapat berubah menjadi DNA sel manusia kita," kata Kate.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mRNA merupakan instruksi tubuh untuk membuat protein. Kebanyakan vaksin dikembangkan dengan benar-benar memberikan protein atau memberikan komponen kecil dari kuman yang dicoba untuk divaksinasi.

"Dan ini adalah pendekatan baru, di mana alih-alih memberikan bagian kecil itu, kami hanya memberikan instruksi kepada tubuh kita sendiri untuk membuat bagian kecil itu dan kemudian sistem kekebalan alami kita meresponsnya," jelas Kate.

3. Terdapat Bahan Kimia Berbahaya

Mitos lain yang cukup membuat sebagian kalangan enggan melakukan vaksinasi adalah kabar mengenai komposisi vaksin. Informasi itu menyebutkan, di dalam vaksin terdapat bahan kimia berbahaya. Kate menyatakan, hal itu adalah mitos besar. Menurutnya, vaksin yang disuntikkan sudah dipastikan aman.

"Vaksin memang mengandung sejumlah elemen yang berbeda dan masing-masing telah diuji. Sebelum diberikan kepada manusia, mereka diuji pada hewan dan diuji untuk masalah apa pun pada hewan. Dan baru kemudian mereka masuk ke manusia di mana kami menguji dalam uji klinis dengan puluhan ribu orang akhirnya menerima vaksin sebelum mereka diizinkan untuk digunakan di masyarakat umum," papar Kate.

Mengenai keamanan, sambung Kate, menjadi bagian terpenting dari uji klinis tersebut. Setiap vaksin melewati evaluasi untuk memastikan keamanannya sebelum digunakan di masyarakat.

"Selain itu, pembuatan vaksin memiliki pengawasan kualitas yang konstan sehingga setiap bahan yang masuk ke dalam vaksin dipastikan memiliki kualitas terbaik dan aman untuk digunakan pada manusia," ucapnya.

Tiga mitos ini cukup membuat heboh di masyarakat saat pemerintah tengah gencar menggalakkan program vaksinasi. Padahal, vaksinasi dilakukan sebagai salah satu upaya dalam rangka mengatasi pandemi COVID-19.



Simak Video "Pertunjukan Wayang Kulit Sebagai Media Penyampai Informasi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)