Jumat, 10 Sep 2021 17:53 WIB

Banyak Provinsi Belum Update Kasus Corona Lebih dari 21 Hari, Ini Respons Satgas

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Puskesmas Menteng melakukan jemput bola tes swab COVID-19. Bagi anda yang ini tes swab yuk datangi lokasi Seruling (swab seru keliling). Respons Satgas soal banyak provinsi belum update data Corona lebih dari 21 hari. (Foto ilustrasi: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menanggapi persoalan banyak provinsi yang belum memperbaharui data kasus COVID-19 dalam lebih dari 21 hari. Menurut dia, laporan kasus Corona menjadi salah satu aspek penting dalam penentuan kebijakan atau strategi penanganan COVID-19.

Maka dari itu, Wiku mengimbau pihak Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah untuk mengevaluasi sinkronisasi kasus COVID-19 pusat dan daerah.

"Mengingat data adalah aspek krusial, termasuk dalam mengambil keputusan, termasuk upaya akumulasi data sekitar 21 hari ke belakang. Umumnya, selama masa migrasi data ini ditemukan perubahan kondisi yang perlu ditindaklanjuti misalnya angka kasus aktif yang berkurang akibat kasus tersebut sudah sembuh atau meninggal," jelas Prof Wiku dalam siaran pers BNPB Jumat (10/9/2021).

"Untuk itu pemerintah daerah maupun Kementerian Kesehatan harus berkoordinasi aktif untuk mensinkronisasikan segera dengan harapan data masih akan interprobabable dan mencegah kejadian yang sama di masa mendatang," sambungnya.

Apakah akan berpengaruh pada PPKM berlevel?

Wiku berdalih, indikator level tidak hanya dilihat dari laju penularan atau kasus aktif Corona dan kematian. Namun, aspek lainnya seperti kapasitas respons daerah juga menjadi perhitungan.
"Perubahan pada salah satu aspek belum tentu mampu secara langsung memberikan perubahan yang signifikan khususnya pada hasil levelling daerah," pungkas dia.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)