Minggu, 12 Sep 2021 22:58 WIB

Ini Saran Pakar Jaga Pola Makan Sehat Selama Pandemi Berlangsung

Khoirul Anam - detikHealth
Hari Obesitas Sedunia 2021, Ini 5 Pola Makan untuk Cegah Obesitas Foto: iStock
Jakarta -

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan banyak negara termasuk Indonesia sepakat bahwa COVID-19 tidak akan hilang dalam waktu cepat. Untuk itu, pemerintah mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup sehat, selain disiplin mengenakan masker dan melakukan vaksinasi.

"Meski virus COVID-19 akan hidup bersama kita dalam jangka panjang, kita harus berusaha tetap produktif karena kehidupan sosial-ekonomi juga bergulir. Tidak ada pilihan selain menerapkan perlindungan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari," papar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate dalam keterangan tertulis, Minggu (12/9/2021).

Dalam menerapkan gaya hidup sehat, menurutnya, menjaga pola makan menjadi garda terdepan. Selain itu, menjaga pola makan juga menjadi salah satu fondasi utama imunitas.

"Pola makan yang baik akan membuat tubuh tidak mudah terserang penyakit, termasuk risiko terinfeksi virus COVID-19," kata dia.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) dr. Elvina Karyadi SpGK menyatakan, asupan gizi diperlukan agar semua sel dalam tubuh, termasuk seluruh sel dalam sistem kekebalan tubuh (imunitas) dapat berfungsi secara optimal.

Gizi yang optimal, kata dia, dapat mendukung fungsi sel imun untuk memberikan respons efektif terhadap patogen. Selain itu, memberi respons cepat yang dibutuhkan saat terjadi infeksi/inflamasi.

Adapun, kata dia, kekurangan gizi akan merusak fungsi kekebalan tubuh sebagai akibat dari kekurangan asupan makanan.

"Tingkat kerusakan yang dihasilkan akan tergantung pada tingkat keparahan defisiensi, adanya infeksi, interaksi zat gizi, dan usia individu. Dengan demikian, kualitas diet yang baik dapat secara efektif membantu penyembuhan inflamasi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh individu," ungkapnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Gizi dr. Annta Kern Nugrohowati, Sp.GK., menjelaskan bahwa untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, manusia memerlukan mineral, vitamin, sumber energi, protein, dan lemak.

Menurutnya, pemerintah telah mencanangkan pola gizi seimbang secara umum, yakni karbohidrat 3-4 porsi, sayur dan buah 5-7 porsi, serta lauk 2-4 porsi per hari. Adapun asupan gula, garam, dan minyak harus diperhatikan agar tidak berlebihan karena menyumbang zat yang dapat memperberat peradangan berlebih saat tubuh terkena infeksi.

"Asupan sayur dan buah orang Indonesia saat ini masih jauh di bawah target. Ini harus kita tingkatkan. Sayur sebaiknya dikonsumsi sebanyak kurang lebih 3 gelas per hari. Buah 2-3 porsi per hari. Sebagai contoh, 3 apel merah kecil atau 2 pisang ambon ukuran sedang per hari," ujar Annta.

Tambahan suplemen vitamin, menurut Annta, diperlukan oleh orang dengan penyakit tertentu, serta mereka yang memiliki pekerjaan berisiko tinggi terpapar virus COVID-19, seperti tenaga kesehatan. Masyarakat umum yang sehat, lanjutnya, cukup memastikan asupan gizi seimbang.

"Susu, karena mudah dikonsumsi, dapat dijadikan salah satu sumber energi dan tambahan vitamin mineral pagi pasien kasus COVID-19. Tetapi, tidak benar bila ada yang mengatakan bahwa susu bisa membersihkan paru-paru," lanjut Annta.

Ia juga memberikan saran khusus sebagai langkah perlindungan bagi anak-anak di bawah 12 tahun yang belum dapat menerima vaksin COVID-19.

Menurutnya, anak yang berusia di atas 2 tahun harus tercukupi gizi dan energinya, serta dibiasakan banyak mengonsumsi sayur dan buah. Sedangkan bagi anak yang masih menerima Makanan Pendamping ASI (MPASI), dipastikan kualitas ASI yang baik selain asupan protein dan lemak yang cukup.

Selain kandungan gizi, ia meminta masyarakat menjaga jadwal makan sehari-hari. Ia menyebut, jadwal makan terbagi berdasarkan tiga waktu utama, yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam.

"Menurut beberapa pakar dapat juga diterapkan lima waktu makan, yakni 3 kali makanan utama dan 2 kali makanan kecil, diutamakan sayur atau buah. Dalam makanan utama, perlu diperhatikan kelengkapan sayuran, karbohidrat, dan protein. Dianjurkan, 50 persen sayur dan buah, 25 persen protein, dan 25 persen karbohidrat," kata dia.

Di samping itu, ia mengungkapkan, cara memasak juga merupakan komponen penting dalam menjaga pola makan yang sehat. Teknik memasak dengan merebus atau mengukus, kata dia, dinilai lebih sehat untuk menjaga kandungan nutrisi pada sayuran yang dimasak.

"Prosesnya juga perlu diperhatikan. Sebagai contoh, sayur yang direbus itu baik, tetapi sebaiknya tidak direbus terlalu lama," kata dia.



Simak Video "Persiapan yang Harus Dilakukan untuk Menuju Endemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)