Senin, 13 Sep 2021 17:51 WIB

Jegal Variant of Concern, Satgas: Perketat Mobilitas-Skrining Berlapis

Angga Laraspati - detikHealth
Jubir Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah membagi 2 kategori utama jenis varian COVID-19. 2 Kategori tersebut yaitu variant of concern (VOC) atau varian yang menjadi perhatian, dan variant of interest (VOI) atau varian yang diamati.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyebut varian yang perlu diwaspadai ialah VOC karena sudah terbukti mengalami perubahan karakteristik yang lebih merugikan bagi yang terpapar seperti lebih menular, meningkatkan keparahan gejala, menurunkan efektifitas kekebalan tubuh, menurunkan alat diagnostik atau menurunkan efektivitas obat dan terapi.

Ia pun mengatakan untuk menghadapinya diperlukan respons yang tepat yakni dengan memperketat kebijakan dengan mengurangi mobilitas serta memperketat skrining.

"Dalam menghadapi VOC, respons yang tepat ialah memperketat kebijakan mobilitas dengan skrining berlapis. Khususnya bagi pelaku perjalanan asal negara dimana varian tersebut ditemukan. Selain itu perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi tertular dengan meningkatkan disiplin prokes dimanapun dan kapanpun kita berada," jelas Wiku dilansir dari covid19.go.id, Senin (13/9/2021).

Mengenai VOC, ada 4 varian yang harus diperhatikan, di antaranya varian A (alpha) atau B.1.1.7 bersifat lebih menular dan lebih berpeluang menyebabkan keparahan gejala. Varian Beta (B.1.351) dan gamma (P.1) bersifat lebih menular dan meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di rumah sakit. Lalu, varian Delta (B.1.617.2) bersifat lebih menular bahkan bagi orang yang telah tervaksin serta meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di RS.

Di samping itu, WHO melaporkan ada 5 VOI yang sedang diamati yaitu, varian Eta (B.1.525), Iota (B.1.526), Kappa (B.1.517.1), Lambda (C.37) dan Mu (B.1621). Varian ini diprediksi dapat mempengaruhi karakteristik virus dilihat dari perubahan genetiknya maupun perubahan transmisi di komunitas termasuk memunculkan klaster kasus di beberapa negara.

Terkait VOI ini, respon menghadapinya ialah terus memantau perkembangan dari WHO. Terdapat 2 kemungkinan yang dapat terjadi seiring studi lanjutan yaitu berubahnya status VOI menjadi VOC seperti pada varian delta atau statusnya menjadi tidak aktif di suatu wilayah.

"Untuk itu jangan terlalu panik dan tetap waspada dengan terus meningkatkan Kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan," lanjutnya.

WHO juga memantau varian-varian yang memiliki perubahan pada materi genetiknya namun pengaruhnya pada angka kasus di masyarakat belum jelas sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Kategori tambahan ini disebut alert for further monitoring salah satunya dari Indonesia yaitu B1.4662 yang ditetapkan pada kategori tersebut pada April 2021.

Meski demikian, pengaruh dari varian COVID-19 seperti VOC yang berdampak terhadap efektivitas vaksin perlu ditanggapi dengan cermat yaitu meningkatkan kewaspadaan tanpa ketakutan berlebih dan terus melakukan pembelajaran dan perbaikan tiada henti.

Pembelajaran dari hasil monitoring dan evaluasi di lapangan seharusnya menjadikan atmosfer keilmuan dan perkembangan teknologi semakin pesat di kalangan penelitian dan pakar di Indonesia.

"Mendorong kita semakin mempercepat memenuhi kebutuhan vaksinasi bahkan melampaui standar minimal cakupan vaksinasi di komunitas karena efektivitas vaksin masih berada di ambang minimal yaitu lebih dari 50 persen dan terus berupaya menekan penularan di segala lini," lanjut Wiku.

Ke depannya seiring dengan hidup berdampingan COVID-19, Pemerintah berkomitmen meningkatkan surveilans atau pencatatan kasus COVID-19, meningkatkan kapasitas sequencing, menyampaikan informasi sebaran varian di Indonesia secara transparan serta antisipatif mendeteksi kasus yang tidak biasa di lapangan.

Menjadi catatan bahwa edukasi terkait data sequencing kepada publik dan Pemda adalah tanggung jawab pemerintah pusat. Karenanya komunikasi edukasi ini harus disampaikan dengan jelas dan harapannya agar pemerintah dapat segera mengakses, dan menavigasi data tersebut sehingga dapat melakukan antisipasi maksimal apabila ditemukan varian baru.

"Kerja sama yang baik antara pusat dan daerah adalah salah satu kunci penanganan COVID-19 di Indonesia," tutur Wiku.



Simak Video "Penjelasan Satgas Covid-19 Terkait Beda Variant of Concern dan Interest"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)