Rabu, 15 Sep 2021 13:00 WIB

Studi Ungkap Ribuan Infeksi Mirip COVID-19 Berpotensi Jadi Pandemi Berikutnya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi masker, pandemi covid-19, ilustrasi vaksin, ilustrasi pasien covid-19 Ilustrasi pandemi. (Foto: AP/Vadim Ghirda)
Jakarta -

Ratusan ribu orang di China dan Asia Tenggara bisa terinfeksi virus Corona dari kelelawar, hewan yang diyakini sebagai inang penyebab SARS-CoV 2 atau COVID-19. Hal ini memicu kekhawatiran terkait ancaman pandemi berikutnya, yang mirip seperti COVID-19.

Disebut-sebut ada 400 ribu infeksi semacam itu yang sebagian besar gejalanya tidak dikenali atau bahkan memiliki gejala ringan dan tidak mudah menular antarmanusia. Peneliti dari EcoHealth Alliance dan Duke-NUS Medical School Singapura mengungkap temuan tersebut dalam studi yang dirilis Kamis, sebelum peer review dan publikasi.

Di Asia, sekitar 478 juta orang tinggal di daerah yang dihuni oleh kelelawar pembawa virus Corona. Sebagian besar di antaranya Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, Nepal, Bhutan, semenanjung Malaysia, Myanmar, China tenggara, termasuk pulau-pulau barat Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang didukung oleh Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, kelelawar adalah hewan inang utama untuk virus Corona yang tinggal sangat dekat dengan manusia. Hal ini yang mungkin menjadi faktor utamanya.

"Ini mungkin upaya pertama untuk memperkirakan seberapa sering orang terinfeksi virus Corona terkait SARS dari kelelawar," kata Edward Holmes, ahli biologi evolusi di University of Sydney yang dikutip dari Straits Times, Rabu (15/9/2021).

"Manusia terus-menerus terpapar virus corona kelelawar. Mengingat keadaan yang tepat, salah satunya pada akhirnya dapat menyebabkan wabah penyakit," lanjutnya.

Peter Daszak dan rekannya di EcoHealth Alliance, New York menggunakan pemodelan distribusi kelelawar dan data ekologi, serta epidemiologi. Ini dilakukan untuk memperkirakan risiko paparan virus corona terkait SARS, dan tingkat infeksi kelelawar ke manusia yang tidak dilaporkan di China dan Asia Tenggara.

Para peneliti mengatakan pendekatan ini membuktikan bahwa konsep untuk penilaian risiko sistematis dari peristiwa satwa liar ke manusia. Selain itu, mereka juga menyusun strategi untuk mengidentifikasi wilayah geografis utama yang bisa diprioritaskan untuk pengawasan yang ditargetkan terhadap satwa liar, ternak, dan manusia.

"Mengingat tantangan dalam mengidentifikasi asal-usul COVID-19 dan jalur penyebaran SARS-CoV-2 ke manusia, pendekatan ini juga dapat membantu upaya mengidentifikasi situs geografis di mana limpahan pertama kali terjadi," kata mereka dalam penelitian tersebut.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)