Sabtu, 18 Sep 2021 14:36 WIB

Sedih, Viral Anak 4 Tahun Pakai Hazmat Tiba di RS Sendiri, Karantina Tanpa Ortu

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Viral video anak usia 4 tahun memakai hazmat lengkap tiba di RS untuk karantina sendirian. Viral anak empat tahun tiba di rumah sakit, karantina sendirian. (Foto: Weibo, tangkapan layar video viral)
Jakarta -

China kembali melaporkan lonjakan kasus COVID-19, banyak di antaranya usia anak. Video viral memperlihatkan seorang anak 4 tahun memakai hazmat putih tiba di koridor rumah sakit.

Bocah yang membawa ransel setengah ukuran tubuhnya berlari ke ruang CT scan, sendirian. "Sayangnya, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun telah terinfeksi (COVID-19)," tulis keterangan dalam video viral tersebut.

"Tidak ada orang tua yang menemani. Pergi ke ruang karantina sendirian."

Aksi itu menuai banyak respons netizen, tak sedikit yang ikut sedih karena penerapan kebijakan pemerintah memisahkan anak dengan orang tua saat hanya mereka yang terpapar COVID-19, terkecuali orang tua juga ikut terinfeksi.

Rekaman viral didokumentasikan seorang perawat di RS karantina China, tepatnya Putian, pusat wabah terbaru varian Delta.

"Itu membuat hati saya sakit," kata salah satu komentar netizen di Weibo, platform mirip Twitter China, dikutip dari CNN.

"Mataku mulai berkaca-kaca," timpal netizen lain.

China memang sangat ketat dalam pengendalian COVID-19, namun tak sedikit yang menyayangkan kebijakan membiarkan anak karantina sendiri tanpa orang tuanya.

Diketahui, negara tersebut langsung menerapkan lockdown wilayah dan melakukan tes massal dalam hitungan hari. Mereka dengan cepat mengisolasi kontak dan merujuk pasien COVID-19 langsung ke tempat isolasi.

"Di Putian, 57 dari 129 kasus yang baru-baru ini dilaporkan berusia di bawah 12 tahun," demikian laporan pemerintah.

Untuk mencegah penularan lebih lanjut, anak-anak yang terinfeksi semuda usia taman kanak-kanak dipisahkan dari orang tua mereka dan dimasukkan ke isolasi rumah sakit.

Namun, jika seorang anak dan orang tuanya sama-sama terinfeksi, rumah sakit akan mencoba mengatur mereka untuk tinggal di ruangan yang sama, kata seorang pejabat.

Awalnya, beberapa anak yang melakukan kontak dengan yang terinfeksi tetapi negatif COVID-19 juga dikarantina jauh dari orang tua mereka. Kebijakan itu kemudian dilonggarkan, anak-anak di bawah 14 tahun diizinkan tinggal bersama orang tua mereka atau anggota keluarga lainnya di karantina, tetapi isolasi untuk anak-anak yang terinfeksi COVID-19 tetap ada.

Zhu Xiaqing, perawat yang mengambil video di rumah sakit karantina, mengatakan kepada surat kabar Fujian Health Daily setempat, ia menangis ketika melihat ambulans yang dipenuhi dengan anak-anak tiba, semuanya lengkap memakai pakaian hazmat.

"Mereka datang terlambat karena seorang anak tidak mau meninggalkan rumah dan menangis selama dua jam sebelum dibujuk ke ambulans," katanya.

"Setibanya di sana, anak-anak menjalani CT scan sendiri. Beberapa masih sangat muda sehingga mereka tidak bisa naik ke meja pemindaian dan harus dibantu oleh dokter," kata Zhu.

"Melihat anak-anak kecil sendirian, tanpa orang tua di sisi mereka, di rumah sakit (mereka) tidak dikenal dan ditakuti, pada saat itu hati saya benar-benar sakit," tambahnya.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)