Senin, 20 Sep 2021 12:30 WIB

Muncul Prediksi Gelombang 3 COVID-19 RI Akhir Desember, Harus Bagaimana?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Ilustrasi COVID-19 di Indonesia. (Foto: dok detikcom)
Jakarta -

Di tengah menurunnya kasus COVID-19 RI dengan jumlah kasus baru di bawah 2.500 pada Minggu (19/9/2021), muncul prediksi gelombang ketiga COVID-19 RI bakal tiba Desember 2021. Mengingat sebelumnya, gelombang ini sempat diprediksi tiba pada Oktober 2021.

"Karena sebelumnya saya selalu sampaikan potensi gelombang ketiga ada September, ini potensi gelombang ketiga mundur, tadinya Oktober, mundur lagi Desember," ujar pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, dalam diskusi daring, Jumat (17/9/2021).

"Karena apa, karena pemerintah memperpanjang PPKM, jadi ini kan estimasi prediksi (juga mengacu) ketika ada intervensi yang kuat. PPKM level ini efektif, makanya jangan sampai kita abai dalam indikator-indikator pelonggaran, termasuk vaksinasi, jadi masukkan di situ kombinasi 3T, 3M," sambungnya.

Pendapat lainnya disampaikan oleh ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane. Menurutnya, potensi lonjakan kasus COVID-19 tak bisa hanya dipicu oleh mobilitas masyarakat.

Pasalnya tanpa peningkatan mobilitas pun, potensi lonjakan kasus tetap ada selama kasus masih ditemukan. Ditambah Unusual Epidemic Event (UEE), misalnya varian Delta.


"Epidemiolog juga melakukan prediksi, tapi bukan untuk memprediksi kenaikan dan penurunan jumlah kasus, tapi untuk membuat strategi pengendalian yang efektif dan efisien. Terutama merencanakan logistik dan pelayanan kesehatan jika terjadi peningkatan," terang Pane pada detikcom, Senin (20/9/2021).

"Sepanjang pengendalian dilakukan secara sistematis, mestinya ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosial kita tidak terpengaruh. Yang jadi persoalan analisis tersebut mewarnai kebijakan, tapi tidak mampu memprediksi Unusual Epidemic Event seperti serangan Delta kemarin," sambungnya.

Pane mencontohkan, lonjakan kasus COVID-19 yang sempat terjadi mulai Juli 2021 terjadi dalam kondisi larangan mudik sudah diterapkan. Artinya meski mobilitas turun karena batasan pergerakan masyarakat, peningkatan eksponensial tetap terjadi akibat varian Delta.

"Lebih baik pemerintah mempersiapkan semua infrastruktur, agar jangan sampai pasien susah dapat tempat tidur, jangan sampai oksigen tidak tersedia, obat-obatan hilang dari pasaran, test susah, vaksin susah. Nggak boleh itu terjadi," pungkasnya.



Simak Video "Ancaman Gelombang Ketiga Covid-19 yang Harus Diwaspadai"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)