Rabu, 22 Sep 2021 21:57 WIB

Masyarakat Diajak Ikut Lindungi Anak Berkebutuhan Khusus dari COVID

Yudistira Perdana Imandiar - detikHealth
Two cheerful girls wearing face protective mask having fun outdoors Ilustrasi/Foto: Getty Images/sarra22
Jakarta -

Pemerintah mengajak semua lapisan masyarakat bekerja sama dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dari penyebaran COVID-19. Termasuk juga dalam mendorong cakupan vaksinasi bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kartini Rustandi menyatakan para anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama, seperti hak untuk bertumbuh kembang, mendapatkan perlindungan, pendidikan, serta pengasuhan yang baik.

"Mereka juga merupakan generasi penerus bangsa yang dapat memberikan sesuatu bagi Indonesia, karena di balik keterbatasannya, mereka pasti memiliki kelebihan," kata Kartini dalam keterangan tertulis, Rabu (22/9/2021).

Ia menjelaskan pelayanan kesehatan bagi anak berkebutuhan khusus sama seperti masyarakat pada umumnya. Hanya saja, dalam pelaksanaannya, para tenaga kesehatan harus memperhitungkan kondisi, riwayat kesehatan, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap mereka.

"Bagi ABK yang terinfeksi COVID-19, tenaga kesehatan akan memberikan obat serta tindakan yang sama dengan masyarakat umum. Namun tentu saja tenaga kesehatan akan mempertimbangkan banyak hal, karena anak-anak ini membutuhkan perlakuan khusus," terang Kartini.

Ia menambahkan percepatan vaksinasi bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk penyandang disabilitas, menjadi salah satu prioritas pemerintah. Pemerintah mengalokasikan vaksin produksi Sinopharm yang didapatkan dari hibah Raja Uni Emirat Arab untuk kelompok rentan ini.

Namun, Kartini menyatakan tidak tertutup kemungkinan anak berkebutuhan khusus mendapatkan suntikan vaksin merek lainnya, karena semua vaksin COVID-19 di Indonesia memiliki fungsi yang sama dalam meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus tersebut.

"Untuk vaksinasi ABK, dapat mengakses langsung ke puskesmas atau sentra vaksinasi seperti masyarakat pada umumnya. Di lokasi tersebut, pendamping harus menyampaikan kepada petugas tentang kondisi ABK yang didampingi,"terang Kartini.

Founder London School Center For Autism Awareness Prita Kemal Gani menilai pelayanan vaksinasi bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia sudah baik. Putri dari Prita yang mengidap autistik pun telah mendapatkan vaksinasi beberapa waktu lalu.

"Waktu itu, begitu ada pengumuman bahwa anak 12-17 tahun boleh disuntik vaksin, kami mengajak anak kami ke GBK, walaupun pada waktu itu vaksinasi diperuntukkan bagi masyarakat umum (bukan untuk ABK, red.). Di sana kami sampaikan bahwa anak kami adalah ABK. Setelah itu, kami langsung mendapatkan jalur khusus," ungkap Prita.

Tidak hanya dalam upaya vaksinasi, ikhtiar memberikan edukasi protokol kesehatan bagi anak berkebutuhan khusus juga dinilai sangat penting. Menurut Prita, edukasi dapat dilakukan dengan metode tertentu.

"Anak-anak autistik sangat menyukai repetisi. Karena itu edukasi protokol kesehatan seperti memakai masker dan cuci tangan harus terus-menerus dilakukan. Setelah paham dan menjadikan itu sebagai kebiasaan yang diulang-ulang, mereka akan disiplin serta konsisten melaksanakan kegiatan tersebut," terangPrita.

Perlindungan kesehatan bagi kaum difabel, terutama anak berkebutuhan khusus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Salah satu lembaga yang giat melaksanakan layanan vaksinasi bagi kaum difabel adalah i-SERVE Vaccine YCAB yang membuka sentra vaksinasi secara drive thru. Ketua Umum i-SERVE Vaccine YCAB James Revelino menyatakan, pihaknya telah membantu vaksinasi lebih dari seribu orang ABK berusia 12-17 tahun, bekerja sama dengan Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

"Kami menyediakan metode drive thru, ruang vaksin terpisah, dan jalur khusus bagi para kaum difabel yang sulit melakukan vaksinasi bersama dengan masyarakat umum. Kami juga memberikan layanan antar jemput bagi mereka, bekerja sama dengan Blue Bird," terang James.

Ia mengatakan sebelum pelaksanaan vaksinasi, pihaknya selalu melakukan persiapan diskusi dengan petugas dan pendamping, guna mendapatkan informasi tentang kondisi anak berkebutuhan khusus yang akan disuntik. Sebelum divaksin, para relawan dan tenaga kesehatan berusaha membuat mereka merasa nyaman. Kemudian, setelah vaksinasi selesai, petugas juga terus melakukan pemantauan kondisi kesehatan yang bersangkutan.



Simak Video "WHO Buka Suara Terkait Amukan Covid-19 di Inggris"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)