Senin, 27 Sep 2021 12:02 WIB

IDAI: Kasus COVID-19 Anak Terbanyak di Jabar, Kematian Terbanyak di Jateng

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pelajar di Tangsel baru menyelesaikan pembelajaran tatap muka hari ini. Sepulang sekolah, lokasi jalanan langsung diserbu. Foto: ANDHIKA PRASETIA
Jakarta -

Tak hanya orang dewasa dan lansia, anak-anak juga tidak luput dari ancaman infeksi virus Corona COVID-19. Berdasarkan laporan dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada sebanyak 37.706 kasus anak yang terinfeksi COVID-19 dalam periode Maret-Desember 2020.

Dari data yang dipublikasi dalam jurnal ilmiah Frontiers in pediatrics pada 23 September lalu, anak-anak yang terkonfirmasi positif ini berasal dari kelompok usia yang berbeda-beda. Namun, mayoritas anak yang meninggal akibat COVID-19 berusia 10-18 tahun yaitu sebanyak 26 persen.

Dari data yang sama juga mengungkap penyebab utama kematian pada anak akibat COVID-19, yaitu adanya penyakit komorbid dan gagal napas. Selain itu, sebagian anak yang meninggal akibat COVID-19 juga memiliki melanoma malignant (17,3%), diikuti oleh gizi buruk (18,0%) serta penyakit jantung bawaan (9,0%). Ada juga 62 anak terkonfirmasi COVID-19 yang meninggal tanpa penyakit penyerta.

Selain itu, laporan riset IDAI ini juga menjabarkan distribusi regional atau daerah dengan kasus COVID-19 pada anak yang terbanyak. Berdasarkan laporan tersebut 10 daerah di Indonesia dengan kasus anak positif COVID-19 terbanyak, yakni Jawa Barat dengan angka 10.903 kasus, dan diikuti oleh Riau (3.580), Jawa Tengah (3.108), Sumatera Barat (2.600), Kalimantan Timur (2.033), Jawa Timur (1.884), Bali (1.524), Sumatera Utara (1.448), DI Yogyakarta (1.275), dan Papua (1.220).

Selain itu, ada 7 wilayah lainnya yang memiliki kasus kematian anak terkonfirmasi positif COVID-19 terbanyak, seperti:

  • Jawa Tengah: 25
  • DKI Jakarta: 24
  • Jawa Barat: 22
  • Sumatera Selatan: 18
  • Jawa Timur: 11
  • Sumatera Utara:11
  • Sulawesi Selatan: 11

Melihat kondisi ini, ketua bidang ilmiah pengurus pusat IDAI, DR Dr Antonius H Pudjiadi, SpA(K), mengatakan bahwa kondisi ini dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah kapasitas testing PCR yang masih rendah saat itu.

"Tidak meratanya deteksi kasus ini terjadi karena, fasilitas tes PCR dan fasilitas kesehatan yang berbeda, kapasitas testing PCR saat itu di Indonesia yang masih rendah dan anak bukan populasi prioritas untuk tes," sebutnya.

Selain itu, laporan hasil riset IDAI juga menyebutkan bahwa Case Fatality Rate (CFR) COVID-19 pada anak di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain, seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Salah satu penyebabnya mungkin karena kapasitas pemeriksaan (testing) yang rendah, sehingga banyak kasus yang tidak terdeteksi.



Simak Video "Waspadai Kasus Covid-19 Pada Anak Meski Tren Positivity Rate Turun"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)