Selasa, 05 Okt 2021 10:02 WIB

Korban Pemerkosaan Reynhard Sinaga Buka Suara, Efeknya Bisa Separah Ini

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
This is an undated handout photo issued by  Greater Manchester Police (GMP) on Monday, Jan. 6, 2020 of Reynhard Sinaga.  A man described as “the most prolific rapist in British legal history” has been sentenced to life in prison with a possible release after 30 years following his conviction for sexual offenses against 48 men. (GMP via AP) Foto: GMP via AP
Jakarta -

Predator seks Reynhard Sinaga divonis penjara seumur hidup usai bersalah membius dan memperkosa 48 pria di apartemennya, Manchester, Inggris. Kini, salah satu korban angkat bicara soal kronologi dirinya pernah dilecehkan Reynhard.

Adalah Daniel, salah satu mahasiswa doktoral yang menjadi korban, bercerita dirinya tidak mengingat apapun saat siuman di apartemen Reynhard. Setelah melihat hasil penelusuran investigasi kepolisian Manchester Raya, dirinya baru tersadar mengalami pemerkosaan.

"Mengerikan melihat diri saya begitu rapuh dalam foto-foto yang diabadikan orang lain," ujarnya.

"Anda bisa melihat saya dalam keadaan koma saya tampak (seperti) sudah meninggal."

Daniel mengaku sulit untuk akhirnya bisa bicara tentang apa yang ia lalui saat menjadi korban pelecehan Reynhard Sinaga. Dirinya merasa begitu rapuh.

"Untuk bisa bicara sebagai pria bahwa saya telah diperkosa adalah hal yang sangat sulit," kata Daniel.

Seberapa besar efek korban pelecehan seksual?

Beberapa waktu lalu, spesialis kejiwaan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dr Gina Anindyajayati, SpKJ menjelaskan korban pelecehan seksual bisa merasakan depresi akut, hingga trauma berkepanjangan.

"Gejala kecemasan hingga depresi seperti adanya rasa tidak berdaya yang demikian hebat, sehingga dia berpikir bahwa saya tidak lagi pantas untuk hidup itu juga mungkin," kata dr Gina saat ditemui detikcom, di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020).

dr Gina menilai perlu ada pendampingan pada korban pelecehan seksual. Hal ini dikarenakan gangguan kecemasan yang tinggi dan kurangnya rasa percaya pada dirinya sendiri.

"Tetapi ada yang berkembang hingga mengalami gangguan jiwa atau dia membutuhkan psikoterapi tingkat lanjut itu (harus) dilakukan oleh psikiater," lanjut dr Gina.

Masalah kejiwaan pada korban pria dan wanita tidak bisa dibedakan. Meskipun pria yang menjadi korban, tetap memerlukan pendampingan dan dorongan untuk segera pulih.

"Itu kan salah satu pertahanannya sebagai budaya nilai-nilai patriarki (laki-laki pemegang kekuasaan)," sambungnya.

"Nah tugas kita bersama menjadi bagian dari masyarakat untuk menormalkan, kalau di luar, sekarang sudah mulai nih mental health matters for everyone," pungkas dia.



Simak Video "Saran Psikolog Bagi Para Korban Pelecehan Seksual"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)