Jumat, 08 Okt 2021 10:30 WIB

WHO Pantau Satu-satunya Provinsi RI yang Masih 'Diamuk' COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Corona di Indonesia. (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih memantau satu-satunya provinsi di Indonesia dengan tingkat penularan level tinggi. Sepekan terakhir sejak 27 September hingga 3 Oktober, penularan tinggi di Kalimantan Utara tercatat dengan insiden 56,8 kasus per 100 ribu penduduk.

"Berdasarkan pedoman interim WHO, ini berarti ada risiko tinggi infeksi COVID-19 untuk masyarakat umum dan tingginya jumlah infeksi lokal," jelas WHO dalam laporan mingguan terbaru, per 6 Oktober 2021.

Sementara dua provinsi yang berada di tingkat penularan COVID-19 sedang ialah Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah. Adalah 33,4 per 100 ribu penduduk dan 21,1 per 100 ribu penduduk.

Kabar baiknya, positivity rate nasional dua pekan terakhir di bawah 2 persen. Berada di bawah angka ideal WHO yaitu 5 persen.

Jumlah kasus mingguan juga terus menurun dibandingkan pekan sebelumnya, hingga 35 persen. Begitu juga dengan jumlah kematian baru mingguan dari 27 September hingga 3 Oktober adalah 706, terjadi penurunan sebesar 29 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Meski terus mengalami perbaikan tren kasus COVID-19, WHO meminta untuk cakupan vaksinasi pada lansia terus ditingkatkan. Hal ini dikarenakan data per 3 Oktober menunjukkan hanya DKI Jakarta yang berhasil memvaksinasi 70 persen populasi lansia.

"Cakupan vaksinasi dosis kedua di antara populasi yang lebih tua terus berlanjut rendah di sebagian besar provinsi. Per 3 Oktober, hanya DKI Jakarta yang tercatat di atas cakupan 70 persen di antara kelompok sasaran ini,"

"13 provinsi terus melaporkan cakupan dosis kedua di bawah 10 persen. Sumatera Barat dan Aceh dilaporkan paling rendah, cakupan di antara populasi yang lebih tua dengan 4,3 persen dan 4,7 persen," pungkas WHO.



Simak Video "Daftar Negara yang Larang Masuk Penerbangan dari Afrika"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)