Senin, 11 Okt 2021 17:19 WIB

Ini Kelompok yang Rentan Alami Kesehatan Mental Gegara Pandemi

Khoirul Anam - detikHealth
Woman in isolation at home for virus outbreak Foto: Getty Images/ozgurcankaya
Jakarta -

Pandemi COVID-19 ternyata berdampak pada kesehatan mental ke beberapa kelompok masyarakat. Pendiri platform online kesehatan mental masyarakat KALBU Iman Hanggautomo mengatakan terdapat beberapa kelompok yang rentan terhadap dampak pandemi dari sisi kesehatan mental.

Di antaranya kelompok usia dini seperti anak dan remaja, kalangan pekerja terutama yang kehilangan pekerjaan atau berkurang penghasilannya, serta orang tua dan pasangan yang merasakan adanya pembatasan kegiatan.

"Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Keluhan kesehatan mental bahkan dapat memicu munculnya masalah pada kesehatan fisik. Seperti halnya fisik yang sakit harus diobati, maka mental yang sakit juga harus mendapatkan penanganan dari para ahlinya. Misalnya, melalui konsultasi dan terapi," tegas Iman dikutip dari laman covid19.go.id, Senin (11/10/2021).

Ia juga memaparkan di Indonesia sekarang sudah tersedia banyak platform untuk melakukan konsultasi psikologis secara daring dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Jumlah konsultasi psikologis meningkat sekitar tiga kali lipat dari sebelumnya pada masa pandemi.

"Kita harus menghilangkan stigma negatif tentang konsultasi psikologis, bahwa kesehatan mental bukanlah hal yang tabu. Oleh karena itu, edukasi pentingnya kesehatan mental juga harus ditingkatkan sejak dini, misalnya dengan menyisipkan pendidikan tersebut ke dalam pelajaran sekolah," ujarnya.

Di samping itu, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Buku Panduan tentang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2021. Buku panduan tersebut menjelaskan tujuan memperingati HKJS, yakni demi meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa, terlebih pandemi memberikan dampak besar bagi kesehatan jiwa masyarakat Indonesia dan dunia.

Dalam buku tersebut menunjukkan bahwa di masa pandemi COVID-19 terdapat kenaikan kasus depresi dan ansietas. Diketahui, lebih dari 60% orang mengalami gejala depresi dan lebih dari 40% mengalami disertai ide bunuh diri. Adapun sekitar 32,6%-45% penduduk yang terkena COVID-19 diperkirakan mengalami gangguan depresi, sedangkan 10,5%-26,8% penyintas COVID-19 mengalami gangguan depresi.

Selama pandemi lebih dari 60% orang mengalami gejala ansietas dan lebih dari 70% orang mengalami gangguan stres pasca trauma. Bahkan ketika berstatus positif COVID-19, sekitar 35,7%-47% orang mengalami gangguan ansietas, serta 12,2% mengalami gangguan stres pasca trauma.

Sementara itu, bagi penyintas COVID-19 sekitar 12,3%-29,6% terkena gangguan ansietas, 25,1%-32,2% mengalami gangguan stres pasca trauma dan insomnia sebanyak 12,1%. Kemudian, seluruh penyintas COVID-19 diketahui mengalami gangguan tidur.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate mengatakan, permasalahan kesehatan jiwa dan mental masyarakat membutuhkan kesadaran dan perhatian bersama. Upaya memelihara kesehatan mental dinilai penting guna menjaga imunitas tubuh.

Secara umum, menurut Johnny, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat secara mandiri untuk membantu membangun kesehatan mental, misalnya sikap menerima dan tidak menyangkal fakta yang ada, serta usaha beradaptasi terhadap perubahan.

"Seperti diketahui bersama, kita memasuki tatanan hidup baru bersama COVID-19, karena virus ini tidak akan hilang dalam waktu singkat. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan mental dan juga jasmani, agar kita tetap sehat dan dapat melakukan banyak aktivitas positif meski dalam situasi sekarang ini," ujar dia.



Simak Video "Kesehatan Mental di Masa Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ega)