Kamis, 21 Okt 2021 11:13 WIB

WHO Ungkap Biang Kerok Pandemi Corona Bakal Lebih Lama Usai

Vidya Pinandhita - detikHealth
Coronavirus. COVID-19. Copy space. 3D Render Ilustrasi. Foto: Getty Images/BlackJack3D
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pandemi COVID-19 bakal berlangsung setahun lebih lama dibanding yang diharapkan sebelumnya. Pasalnya, masih banyak negara miskin yang kesulitan mendapatkan akses dan stok vaksin COVID-19.

Dipaparkan, populasi Afrika yang sudah menerima vaksin COVID-19 baru mencapai kurang dari 5 persen. Sementara di sebagian besar negara benua lain, capaian vaksinasi sudah sekitar 40 persen.

Pimpinan senior di WHO, Dr Bruce Aylward, menegaskan negara-negara kaya perlu menggilir posisi mereka dalam antrean vaksin COVID-19 agar perusahaan farmasi dapat bergantian memberikan stok kepada negara-negara berpenghasilan rendah.

"Kami benar-benar perlu mempercepatnya (vaksinasi) atau tahukah Anda, pandemi ini akan berlangsung selama satu tahun lebih lama dari yang seharusnya," ujarnya, dikutip dari BBC, Kamis (21/10/2021). .

Aliansi amal 'People's Vaccine Alliance' mengkritik Kanada dan Inggris sebagai bagian dari G7 lantaran melakukan pengadaan vaksin melalui jalur COVAX. Mengingat, jalur ini merupakan program global yang didukung PBB dengan misi mendistribusikan vaksin COVID-19 secara adil.

Penasihat Kesehatan Global Oxfam, Rohit Malpani, menyebut Kanada dan Inggris secara teknis berhak mendapatkan vaksin melalui rute ini selama membayar sesuai mekanisme COVAX. Namun menurutnya, hal tersebut tak bisa dibenarkan secara moral mengingat kedua negara tersebut mampu memperoleh jutaan dosis melalui perjanjian bilateral.

"Mereka seharusnya tidak mendapatkan dosis ini dari Covax," katanya.

"Tidak ada yang lebih baik dari double-dipping dan berarti negara-negara miskin yang sudah berada di belakang antrian, akan berakhir menunggu lebih lama," sambung Rohit.

Di lain sisi, pemerintah Kanada menekankan telah berhenti menggunakan vaksin COVID-19 jalur COVAX dengan harapan stok vaksin bisa dialihkan ke negara-negara berkembang yang juga membutuhkan.

"Pasokan yang kami dapatkan melalui kesepakatan bilateral akan cukup untuk penduduk Kanada. Kami memutar dosis yang telah kami dapatkan dari COVAX kembali ke COVAX, sehingga mereka dapat didistribusikan kembali ke negara-negara berkembang," kata Menteri Pembangunan Internasional Kanada, Karina Gould.



Simak Video "WHO: Eropa Pusat Pandemi walau Vaksin Melimpah"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)