Minggu, 24 Okt 2021 17:12 WIB

Berkaca dari Rusia, Ini Saran PB IDI untuk Antisipasi Lonjakan COVID

Angga Laraspati - detikHealth
Wakil Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes Foto: detikcom-Wakil Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes
Jakarta -

Lonjakan kasus COVID-19 baru-baru ini terjadi di beberapa negara di Eropa, salah satunya Rusia. Wakil Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes memberikan beberapa saran untuk pemerintah agar hal tersebut tidak terjadi di Indonesia.

Seperti diketahui, kematian karena COVID di Rusia melonjak tajam. Otoritas Rusia pada Kamis (21/10) yang lalu melaporkan ada 1.036 kematian dalam satu hari. Hal ini makin diperparah dengan cakupan vaksinasi di Rusia yang baru menyentuh 35% dari populasi.

Berkaca dari hal tersebut, Dr. Slamet memberikan masukan dan saran untuk pemerintah agar menyiapkan segala hal dalam mengantisipasi lonjakan COVID-19. Apalagi, menurut Dr. Slamet cakupan vaksin lengkap di Indonesia masih berada di kisaran sekitar 30%.

"Seperti di Rusia juga sama itu 30-an persen tapi dia melonjak lagi. Nah, kami khawatir kalau ini tidak segera dikejar ini vaksin, kita yang belum divaksin bisa terkena. Atau yang vaksinnya sudah lama dan antibodinya turun bisa terkena. Tapi intinya adalah protokol kesehatan," kata Dr. Slamet dikutip dari acara The Doctor's Corner yang tayang di detikcom, Minggu (24/10/2021).

Dr. Slamet juga menjelaskan dalam menangani sebuah penyakit memang dibutuhkan 4 langkah yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Untuk promotif yaitu sosialisasi sebesar-besarnya memberikan edukasi kepada masyarakat agar mengetahui betul apa COVID-19 agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks.

"Itu harus besar-besaran, karena kalau promotifnya lemah maka hoaks akan merajalela, dan masyarakat akan terpengaruh dengan hoaks," ungkapnya.

Kedua adalah preventif yaitu kegiatan mencegah suatu penyakit, salah satunya yaitu dengan protokol kesehatan. Dr. Slamet pun menyarankan pemerintah untuk mengetatkan lalu lintas keluar masuk Indonesia.

Hal ini berangkat dari pengalaman masuknya varian delta COVID-19 yang masuk ke Indonesia yang dibawa orang-orang WNA atau WNI yang datang dari India. Inilah yang menurut Dr. Slamet harus dijaga dengan ketat dan diawasi.

Selanjutnya adalah harus secepat-cepatnya untuk melakukan vaksinasi. Hal ini menghindari orang-orang yang sudah divaksin di awal antibodinya sudah drop dan turun sehingga mudah terjangkit oleh COVID-19. Jadi, Dr. Slamet menyarankan untuk vaksin tetap tersedia dan cepat pelaksanaannya.

"Saya kira akhir Desember ini sudah bisa 100% atau 80% dari jumlah penduduk Indonesia, itu dari sisi preventif," katanya.

Lebih lanjut dari sisi kuratif, pemerintah harus betul-betul menjaga tenaga kesehatan. Ia pun bersyukur hingga saat ini pemerintah telah memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan dengan memberikan vaksin booster.

Pemerintah juga harus menjamin ketersediaan obat-obatan, alat-alat kesehatan, ventilator, hingga oksigen. Setelah itu semua tercukupi, pemerintah juga harus memastikan jumlah ketersediaan tempat tidur.

"Untuk menghindari segala sesuatunya itu, pemerintah harus siap. Jangan sampai seperti gelombang 1 dan 2. Ya, mungkin karena banyak vaksin kita jadi gelagapan. Ya, itu jadi pembelajaran bagi kita untuk menyiapkan segala sesuatunya apabila terjadi gelombang 3 atau 4 nanti," tutur Dr. Slamet.

Dr. Slamet juga mengingatkan pemerintah agar biaya untuk menanggulangi COVID-19 cukup dan tidak kurang. Terakhir, pemerintah harus menyediakan fasilitas isolasi mandiri, sebab pengalaman dari bulan Juni kemarin, ada ribuan orang yang meninggal saat isolasi mandiri dan tak terpantau oleh dokter.

"Nah, salah satunya yaitu dengan telemedicine. Sekarang kan banyak yang mendukung hal itu, paling tidak pasien yang di rumah itu terpantau dokter, termasuk obat-obatannya. Jadi saya kira, upaya promotif, preventif, dan kuratif itu bila dilakukan dengan baik, insya Allah kita bisa mengendalikan kalau terjadi gelombang COVID-19 ¾," imbuhnya.

Berbicara soal telemedicine, kini masyarakat juga sudah memiliki banyak pilihan salah satunya yaitu Halodoc. Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS mengungkapkan pihaknya juga membantu dalam mengantisipasi lonjakan COVID-19.

dr. Irwan mengatakan Halodoc kerap memberikan artikel-artikel terkait COVID-19 dan juga konsultasi, pembelian obat hingga isolasi mandiri. Bahkan, pengguna Halodoc juga meningkat selama masa pandemi kali ini hingga 27 juta pengguna setiap bulannya.

"Ada 5 besar konsultasi yaitu spesialis untuk anak, penyakit dalam, obgyn, THT, serta yang menarik sebetulnya ada kesehatan jiwa," tuturnya.

Sebagai informasi, dalam rangka memperingati Hari Dokter Nasional 2021, detikcom menyelenggarakan webinar The Doctor's Corner bertajuk 'Dokter Hebat Indonesia Kuat' yang turut didukung oleh Halodoc.

Webinar ini digelar untuk mengajak masyarakat mengapresiasi perjuangan dokter dan tenaga kesehatan yang menjadi garda depan penanganan COVID-19 dengan segala macam risikonya, salah satunya dengan menyampaikan pesan semangat bagi para dokter dan menyalurkan donasi untuk penanganan COVID dan kesejahteraan nakes di Tanah Air.

Hari ini, Halodoc juga melakukan penyerahan donasi untuk penanganan COVID dan kesejahteraan nakes di Indonesia melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai pengelola donasi. Halodoc juga membuat sebuah filter monumen dokter yang bisa dipakai pengguna Instagram.



Simak Video "Israel Mulai Vaksinasi Anak Usia 5-11 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)