Kamis, 28 Okt 2021 14:54 WIB

4 Fakta Amukan Corona di Singapura, Gagal Damai dengan COVID-19?

Astika - detikHealth
Singapura melaporkan kasus gejala berat dan angka pasien Corona rawat inap meningkat beberapa hari terakhir. Ratusan orang terinfeksi dari klaster perkantoran hingga asrama. Foto: Getty Images
Jakarta -

Singapura,sebagai salah satu negara yang pertama kali mengganti kebijakan menanggulangi COVID-19, dari strategi awal yaitu "Covid zero" (menekan kasus infeksi) ke strategi "Living with Covid" (hidup berdampingan dengan Covid).

"Strategi Covid Zero sudah tidak tepat lagi, mengingat adanya varia Delta yang sangat cepat menular. Namun, dengan vaksinasi, infeksi dapat menjadi penyakit ringan dan kemungkinan besar dapat diobati," ujar Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, dikutip dari The Straitstimes.

Saat ini tercatat 84 persen penduduk Singapura sudah menerima kedua dosis vaksin COVID-19 bahkan 14 persennya sudah mendapatkan booster. Imbasnya, pemerintah Singapura melonggarkan pembatasan kewaspadaan yang tinggi karena vaksinasi sudah mencapai 80 persen.

Akibat aktivitas masyarakat yang sudah mulai normal tersebut, terjadi lonjakan kasus infeksi COVID-19 di Singapura.

Berikut beberapa fakta lonjakan kasus COVID-19 di Singapura:

1. Vaksinasi di atas 80 persen

Dikutip dari situs Ministry of Health Singapore (29/10/2021), dalam 28 hari terakhir, tercatat 90.203 kasus Covid-19 meskipun 84% penduduknya sudah mendapatkan kedua dosis vaksin. Bahkan di hari Rabu (27/10/2021) tercatat 5.324 kasus baru dengan tingkat laju infeksi sebesar 1,15 persen.

2. Klaster kegiatan masyarakat

Akibat aktivitas masyarakat yang sudah mulai dilonggarkan, terbentuk beberapa klaster yang dengan tingkat kasus yang tinggi. Saat ini, klaster komunitas pensiunan Singapura (Bukit Batok Home) menyumbang angka kasus tertinggi yaitu 157 kasus dan mendapatkan pengawasan ketat dari pemerintah.

3. Lockcown lokal hingga 21 November

Akibat lonjakan kasus dan sistem kesehatan yang sudah mulai kewalahan, pemerintah Singapura memperpanjang pembatasan COVID-16 hingga 21 November dan akan ditinjau setiap 2 minggu.

4. Alami lonjakan tak biasa

Departemen kesehatan Singapura menyebut angka infeksi tinggi ini sangat tidak biasa. Di antara kasus baru yang dilaporkan, 5.312 infeksi ditularkan secara lokal, terdiri dari 4.651 di masyarakat dan 661 di asrama pekerja migran. Tercatat 12 kasus adalah impor.

"Depkes sedang melihat lonjakan kasus yang tidak biasa ini dalam waktu yang relatif singkat, dan memantau dengan cermat tren selama beberapa hari ke depan," tambah MOH.



Simak Video "Menkes Budi: di Singapura, Varian AY.23 Itu Pasti dari Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)