Kamis, 11 Nov 2021 14:28 WIB

Alasan Nadiem Susun Permendikbud Kekerasan Seksual: Ingat 3 Putrinya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jakarta -

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menerbitkan Permendikbudristek mengenai pencegahan kekerasan seksual di lingkup perguruan tinggi. Nadiem mengatakan penerbitan aturan ini bisa mewujudkan institusi pendidikan yang aman bagi para siswa.

Kasus kekerasan seksual kerap terjadi di lingkungan pendidikan. Tidak jarang, korban berbenturan dengan relasi kuasa saat ingin melaporkan kasusnya.

Nadiem juga mengatakan penerbitan Permendikbud ini juga merupakan bukti bahwa ia sudah berusaha menciptakan ruang aman bagi siswa di institusi pendidikan di masa mendatang. Terutama bagi putrinya yang saat ini masih balita.

"Saya punya tiga orang putri, yang paling tua umurnya masih 4 tahun. Saya selalu punya bayangan dalam 10 tahun lagi mereka akan nanya saya, 'Bapak (sudah) ngapain untuk melindungi kita (dari ancaman kekerasan seksual) waktu jadi menteri'," ujarnya dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan Trans7, Rabu (10/11).



Sepanjang tahun 2015-2020, Komnas Perempuan menerima 27 persen aduan kasus kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi dari keseluruhan pengaduan yang terjadi di lembaga pendidikan. Temuan Mendikbud Ristek (2019) juga melaporkan kampus menempati urutan ketiga lokasi terjadinya tindak kekerasan.

Sayangnya para korban pelecehan dan kekerasan seksual yang mencoba melapor justru kerap mendapatkan stigma negatif dan tekanan dari masyarakat. Tidak jarang para korban yang akhirnya harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk melaporkan kasus yang mereka alami.

Nadiem mengatakan ada tiga inovasi dalam Permendikbud yakni, harus ada satgas. Kedua penjabaran, definisi 20 perilaku yang dikategorikan sebagai kekerasan seksual dan partisipasi dari seluruh civitas academica.

"Jadi ini satu situasi yang menurut saya tidak bisa pemerintah hanya duduk diam saja. Ini sudah menjadi situasi pandemi tersendiri yang menyebar, dan kita harus mengambil posisi yang tegas terhadap situasi ini," tegasnya.

(kna/up)