Kamis, 11 Nov 2021 21:33 WIB

Terkuak! 3 Skenario Ahli saat Pandemi COVID-19 Benar-benar Berakhir

Astika - detikHealth
Negara China, Singapura, dan Jepang adalah negara yang berhasil menghadapi wabah COVID-19 dengan baik. Namun mereka harus mengantisipasi adanya gelombang kedua. Skenario para ahli saat pandemi COVID-19 berakhir. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah berlangsung hampir 2 tahun sejak pertama kali dilaporkan di akhir tahun 2019, di Wuhan, China. Tercatat berbagai upaya telah dilakukan semua negara untuk mengakhiri pandemi, termasuk vaksinasi.

Tidak sedikit yang bertanya apakah hidup bisa benar-benar kembali normal saat pandemi COVID-19 berakhir. Dikutip dari CNN, ini yang sebenarnya terjadi saat pandemi COVID-19 berakhir menurut para ahli.

Tantangan muncul banyak varian baru

Salah satu alasan perkembangan COVID-19 sulit untuk diprediksi adalah seringnya muncul virus corona varian baru, seperti Delta yang memiliki kemampuan transmisi dan menginfeksi yang lebih tinggi.

"Sekarang kita lihat penyebaran dan penularan COVID-19 menjadi lebih luas secara global. Akibatnya semakin sulit untuk deklarasi mengakhiri pandemi ini," ujar Profesor Arnold Monto, Ahli Epidemiologi Universitas Michigan sekaligus Ketua Komite Penasihat Vaksin FDA.

"Namun, berita baiknya kita juga memiliki senjata untuk menghadapi munculnya varian baru tersebut yaitu melalui vaksinasi", imbuh Prof Monto.

Harapan transisi pandemi menjadi endemi

Saat pandemi COVID-19 berhasil bertransisi menjadi endemi, artinya penyakit ini akan menjadi penyakit yang konsisten berada di suatu wilayah tertentu dengan tingkat penyebaran dan penularan yang dapat diprediksi.

"Untuk transisi pandemi menjadi endemi, setiap negara harus membangun kekebalan terhadap virus Corona, yang artinya harus lebih banyak orang yang divaksinasi," ujar Dr. Philip Landrigan, ahli epidemiologi dari Boston College.

Diprediksi akan berakhir seperti kasus flu biasa

Banyak ahli yang berpendapat bahwa penyebaran virus Corona memiliki kesamaan dengan infleunza yang terjadi secara musiman.

"Kami dapat menangani kasus flu musiman ini, karena kami tahu bahwa akan terjadi pelonjakan kasus saat musim dingin sehingga kami telah mempersiapkannya. Namun, berlawanan dengan lonjakan COVID-19 yang dihadapi saat ini," ujar Dr. Stephen Parodi, ketua penyakit menular dari Kaiser Permanente.



Simak Video "Kabar Baik! Selama Ramadan, Tren Covid-19 di Indonesia Terus Turun"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)