Selasa, 16 Nov 2021 06:55 WIB

Sisi Lain

Seperti Apa Suka Duka Merawat Oma-opa? Ini Cerita Perawat Lansia

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Merawat orang-orang lanjut usia, khususnya yang sakit dan membutuhkan penanganan intensif, jelas bukan hal yang mudah. Lantas, apa yang membuat para perawat rela turun tangan melayani lansia di tempat-tempat perawatan lansia? Begini curhat seorang perawat.

Penanggung jawab Kanopi Nursing House, Anna Lidwina, mengisahkan pekerjaannya sehari-hari adalah perjuangan besar. Tak hanya mengurusi kesehatan para lansia yang sudah memiliki riwayat komorbid, ia mesti berhadapan dengan emosi para penghuni lansia yang meletup-letup setiap hari.

Misalnya karena penghuni bertengkar satu dengan yang lain, atau sesimpel tak mau diatur para perawat.

"Saya, orang tua sudah meninggal dua-duanya. Nenek-kakek pun sudah meninggal. Tapi dengan adanya mereka, saya curahkan sayang ke mereka. Karena siapa pun itu tetap orang tua. Itu kan harus dihormati," ujarnya saat ditemui detikcom di Kanopi Nursing House, Jakarta Timur, Senin (15/11/2021).

Namun baginya, meski pekerjaan membuatnya harus jauh dari keluarga, kesembuhan lansia yang ia tangani adalah kebahagiaan tersendiri.

"Ketika mereka marah-marah, mereka yang ngotot-ngotot. Untuk teman-teman di sini, malah hiburan karena kita kan nggak boleh keluar," imbuh Anna.

"Saya jauh dari keluarga, nggak boleh keluar, harus bisa menahan emosi. Untuk menangani penghuni yang marah-marah, itu perlu perjuangan," sambungnya.

Berbekal ilmu dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) di Borromeus, Anna berprinsip bahwa di mana pun ia berkarier sebagai perawat ia harus senantiasa menyayangi pasien.

"Segala sesuatu yang kita dapat itu sudah rencana Tuhan. Jadi kita bekerja semaksimal kita. Saya awal-awal menolak, apalagi saya orangnya keras. Harus berlembut-lembut dengan penghuni itu tantangan banget. Tapi di sini saling dukung seperti keluarga," beber Anna.

Anna mengaku, demi melayani para lansia di tempatnya bekerja sekarang, ia sampai sempat ditentang oleh keluarga. Kenapa?

Selanjutnya
Halaman
1 2