Selasa, 23 Nov 2021 07:29 WIB

Tiktok Kemnaker Singgung 'Gaji Gede Mental Health Down', Ini Saran Psikolog

Vidya Pinandhita - detikHealth
Tangkapan layar dari akun Tiktok Kementerian Ketenagakerjaan (@kemnaker) Foto: Tangkapan layar dari akun Tiktok Kementerian Ketenagakerjaan (@kemnaker)
Jakarta -

Viral konten Tiktok Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyebut 'gaji gede mental health down' atau 'gaji kecil mental health baik'. Ramai menuai kontroversi di media sosial, lantas benarkah perkara gaji bisa mengganggu kesehatan mental?

"Kalau kaitannya dengan kondisi mental, tentu saja ada. Apalagi sekarang kita sering temui orang yang mengalami burnout bekerja, merasa bean kerjanya makin lama makin banyak, atau ada kejenuhan," terang psikolog klinis Anastasia Sari Dewi, founder dari pusat konsultasi Anastasia and Associate pada detikcom, Senin (22/11/2021).

Namun menurutnya, kondisi mental tak hanya dipengaruhi faktor ekonomi seperti perkara gaji dalam kasus ini. Di samping itu, terdapat faktor lain seperti genetik, klinis, psikososial, hingga sistem manajemen yang berjalan di tempat kerja.

Walhasil, faktor gaji sebagai penentu kondisi mental tak bisa dipukul rata untuk semua orang.

"Kalau ngomongin kesehatan mental yang kaitannya pekerjaan selain salary ada juga fit kecocokan diri dengan pekerjaan, manajemen waktu dengan load kerja, kemudian sistem kerja. Manajemen itu juga berpengaruh terhadap bagaimana karyawan stres," terang Sari.

"Kondisi pertemanan politik dan sebagainya itu nggak hanya sebatas siapa yang mau dapat promosi atau saingan potensi, nggak juga. Kita melihat banyak kasus ini pelecehan seksual, bullying, itu juga berpengaruh terhadap kesehatan mental," imbuhnya.

Di samping dari kontroversi yang beredar khususnya di linimasa Twitter, Sari menyebut selektif soal pekerjaan bisa meminimalkan risiko masalah mental pada pekerja. Sebab semakin sesuai pekerjaan dengan minat dan bakat serta kebutuhan perusahaan, semakin pekerjaan bisa dijalani dengan nyaman.

"Lebih baik bekerja sesuai potensi masing-masing karena jika ingin bekerja dengan baik, tentu saja perlu proses adaptasi untuk kita bisa bekerja. Akan lebih mudah dilewati apabila potensi yang kita miliki sejalan dengan kebutuhan perusahaan," terang Sari.

"Selektif soal pekerjaan sangat disarankan supaya kondisi mental dalam jangka waktu panjang lebih terjaga. Bekerja itu tujuannya bertahan hidup. Hidup yang bagaimana? Menyenangkan, sehat. Sehat bagaimana? Sehat fisik dan mental," pungkasnya.



Simak Video "WHO: Hampir 1 Miliar Orang di Dunia Memiliki Gangguan Mental"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)