Selasa, 23 Nov 2021 08:42 WIB

'Kapok' dengan Varian Delta, Pakar Beberkan Cara Mencegah Mutasi Varian Corona

Vidya Pinandhita - detikHealth
Coronavirus. COVID-19. Copy space. 3D Render Ilustrasi pakar paparkan mencegah mutasi virus Corona dengan vaksinasi COVID-19 anak-anak. Foto: Getty Images/BlackJack3D
Jakarta -

Pakar menyebut vaksinasi COVID-19 anak-anak berperan mencegah pembentukan mutasi atau varian baru Corona. Bagaimana penjelasannya?

Pakar menyebut vaksinasi COVID-19 pada anak-anak salah satunya berfungsi mencegah pembentukan mutasi atau varian baru Corona. Mengingat, varian virus Corona yang berkembang, misalnya varian Delta, disebut-sebut lebih berbahaya. Bagaimana penjelasannya?

Vaksinasi COVID-19 pada anak-anak berfungsi mengurangi penyebaran yang sifatnya 'diam-diam' lantaran sebagian besar kasus tidak bergejala, atau setidaknya hanya bergejala ringan. Ketika virus menyebar tanpa terlihat, ilmuwan meyakini, virus tersebut tak akan mereda. Semakin banyak orang terkena, semakin besar kemungkinan varian baru meningkat.

Ahli virologi di University of Wisconsin-Madiso, David O'Connor, mengibaratkan setiap kasus infeksi COVID-19 dengan 'lotere'. Di mana ada kasus infeksi, di sana ada peluang untuk virus berkembang menjadi lebih berbahaya.

"Semakin sedikit orang yang terinfeksi, semakin sedikit tiket lotre yang dimilikinya dan semakin baik kita semua dalam hal menghasilkan varian," katanya, dikutip dari AP News, Selasa (23/11/2021). Ia juga menyinggung, varian lebih berpotensi berkembang pada orang dengan kekebalan yang lemah.

Di lain sisi, ada juga sejumlah peneliti tidak setuju perihal anak-anak telah memengaruhi jalannya pandemi. Penelitian awal menyebut, anak-anak tidak berkontribusi besar terhadap penyebaran virus. Namun beberapa ahli menyebut, anak-anak memainkan peran penting tahun ini dalam penyebaran varian Corona paling menular, seperti varian Delta.

Hingga kini, varian Delta masih mendominasi kasus COVID-19 Amerika Serikat (AS) dengan jumlah lebih dari 99 persen dari spesimen virus Corona yang dianalisis.

Ahli penyakit menular di Universitas Johns Hopkins, Dr Stuart Campbell Ray, menyebut varian Delta mungkin secara intrinsik lebih menular. Kemungkinan lain, virus menghindar dari sebagian perlindungan vaksin atau kekebalan dari infeksi sebelumnya.

"Mungkin kombinasi dari hal-hal itu," katanya.

"Tetapi ada juga bukti yang sangat bagus dan berkembang bahwa delta lebih cocok, artinya dapat tumbuh ke tingkat yang lebih tinggi lebih cepat daripada varian lain yang dipelajari. Jadi ketika orang terkena delta, mereka menjadi menular lebih cepat," imbuh dr Ray.

Ray mengatakan, varian Delta adalah 'keluarga besar' virus, dan dunia sekarang berenang dalam semacam 'sup Delta'. Meski begitu menurutnya, sulit untuk mengetahui fitur genetik yang mungkin memiliki keunggulan, atau varian non-Delta mana yang berpotensi melengserkan Delta.

"Kami memiliki banyak garis keturunan Delta yang beredar di banyak tempat tanpa pemenang yang jelas," kata Ray, menambahkan bahwa sulit untuk mengetahui dari fitur genetik yang mungkin memiliki keunggulan, atau varian non-delta mana yang mungkin melengserkan delta.



Simak Video "Masih di Bawah Target, Vaksinasi Covid-19 Lansia Makassar Digeber"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)