ADVERTISEMENT

Selasa, 23 Nov 2021 12:45 WIB

Banyak yang Beli Ketengan, Gambar 'Horor' di Bungkus Rokok Jadi Tak Efektif!

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sejumlah minimarket di DKI Jakarta mulai menutupi pajangan produk rokok. Namun ada juga yang tetap membuka displaynya di tengah pro-kontra larangan memajang bungkus rokok. Ilustrasi dokter spesialis paru pertanyakan efektivitas gambar pada bungkus rokok. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Tingginya konsumsi rokok bak tak ada habisnya menjadi perkara di Indonesia. Padahal sederet cara telah dijajal mulai dari larangan merokok di tempat tertentu, hingga meniadakan pajangan rokok di gerai-gerai sebagaimana yang diterapkan di DKI Jakarta.

Atau upaya lainnya, pemasangan 'gambar seram' di bungkus rokok, disebut-sebut bertujuan bikin calon pembeli menjadi ngeri. Efektifkah?

Spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K) menyebut gambar-gambar di bungkus produk rokok tersebut tak berimbas menekan jumlah perokok.

Mengingat, merokok baik pasif dan aktif masih menjadi penyebab utama penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Ditambah, masyarakat juga bisa dengan amat gampang membeli rokok ketengan atau per batang di warung-warung.

"Indonesia baru terakhir menaruh gambar dampak merokok tapi itu juga nggak menimbulkan jera. Yang paling kita inginkan, kalau bisa pemerintah bersama-sama Kementerian Kesehatan menginisiasi supaya citra rokok ditingkatkan setinggi-tingginya," tegasnya dalam acara Hari PPOK Sedunia, Selasa (23/11/2021).

"Karena Indonesia satu-satunya negara yang saya tahu rokok bisa dibeli ketengan. Itu memudahkan orang untuk merokok," sambung Prof Faisal.

Ia juga menyayangkan, produk rokok di Indonesia bisa dengan mudah dibeli oleh anak-anak. Hal itu menurutnya memperburuk tingkat konsumsi rokok di Indonesia.

"Anda lihat di Jepang, kalau umur kurang dari 20 tahun nggak bisa beli rokok, nggak boleh. Kita kan anak umur empat tahun disuruh beli rokok, bisa dia beli rokok. Nah itu kasihan. Ada videonya anak umur dua tahun saja merokok. Harusnya kita malu sebagai bangsa karena rokoknya kebangetan," beber Prof Faisal.

"Coba tanya BPJS, berapa duit yang habis untuk merokok? Habis untuk PPOK, kanker paru, untuk jantung, notabenenya untuk rokok. Jauh lebih besar daripada cukai rokok. Kalau mau, cukai rokok dinaikan tiga sampai empat kali lagi karena di Indonesia harga rokok paling murah di dunia," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Adu Perspektif
×
Manuver Dewan Kolonel, Hingga Dendam Lama
Manuver Dewan Kolonel, Hingga Dendam Lama Selengkapnya