Kamis, 25 Nov 2021 07:08 WIB

WHO Buka-bukaan, Begini Tingkat Efektivitas Vaksin COVID-19 Lawan Varian Delta

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sejumlah pengungsi mengantre untuk mendapatkan vaksin yang diselenggarakan di GOR Bulungan, Jakarta, Kamis (7/10/2021). Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) DKI Jakarta dan UNHCR menyelenggarakan kegiatan vaksinasi Covid-19 untuk para Warga Negara Asing (WNA) pengungsi dan pencari suaka yang berdomisili di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Ilustrasi vaksinasi COVID-19. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin COVID-19 mengurangi penularan varian Delta hanya sebesar 40 persen, Rabu (24/11/2021). Mengingat, varian ini menular jauh lebih cepat dibanding varian Corona lainnya dan diyakini banyak orang mampu menurunkan efektivitas vaksin.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak orang yang sudah divaksinasi untuk terus mengambil langkah-langkah menghindari infeksi virus Corona. Ia mencatat bahwa pekan lalu, lebih dari 60 persen dari semua kasus dan kematian akibat COVID-19 kini terjadi di Eropa.

Menurutnya, banyaknya kasus COVID-19 diterjemahkan sebagai tekanan yang tidak berkelanjutan, khususnya pada sistem kesehatan dan tenaga kesehatan yang kelelahan.

"Kami prihatin dengan rasa aman palsu bahwa vaksin telah mengakhiri pandemi dan orang-orang yang divaksinasi tidak perlu mengambil tindakan pencegahan lainnya," kata Tedros, dikutip dari The Straits Times, Kamis (25/11/2021).

"Vaksin menyelamatkan nyawa tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan," sambungnya.

Ia memaparkan bahwa sebelum ada varian Delta, vaksin COVID-19 diyakini menekan risiko penularan hingga 60 persen. Varian Delta kini diketahui mendominasi kasus COVID-19 di seluruh dunia.

"Data menunjukkan bahwa sebelum kedatangan varian Delta, vaksin mengurangi penularan sekitar 60 persen. Dengan Delta, itu turun menjadi sekitar 40 persen," kata Tedros.

Laporan epidemiologi mingguan WHO menyebut, dari 845 ribu urutan yang diunggah ke inisiatif sains global GISAID dengan spesimen yang dikumpulkan 60 hari terakhir, 99,8 persen adalah Delta.

"Jika Anda divaksinasi, Anda memiliki risiko penyakit parah dan kematian yang jauh lebih rendah. Akan tetapi, Anda masih berisiko terinfeksi dan menulari orang lain," beber Tedros.

"Bahkan jika Anda telah divaksinasi, terus lakukan tindakan pencegahan untuk mencegah diri Anda terinfeksi dan menginfeksi orang lain yang dapat meninggal," pungkasnya.



Simak Video "WHO: Eropa Pusat Pandemi walau Vaksin Melimpah"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)