Jumat, 03 Des 2021 05:35 WIB

Kerap Menangis Sambil Tertawa? Waspadai Gangguan Saraf Pseudobulbar Affect

Hartaty Varadifa - detikHealth
Japanese woman getting emotional Menangis sambil tertawa bisa jadi gejala gangguan saraf (Foto: Getty Images/kumikomini)
Jakarta -

Pernah menangis sambil tertawa? Jika pernah mengalaminya maka kemungkinan terdapat gangguan saraf yang disebut juga dengan pseudobulbar affect (PBA). Akan tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan pseudobulbar affect?

Pseudobulbar affect (PBA) merupakan suatu kondisi ketika seseorang tiba-tiba menangis sambil tertawa yang cenderung tidak dapat dikendalikan. Kondisi ini beda dengan tertawa atau menangis biasa, PBA kerap terjadi tanpa adanya pemicu.

Dikutip dari Mayoclinic ketika mengalami PBA kamu akan merasakan emosi secara normal, namun terkadang kamu dapat mengekspresikannya dengan cara yang berlebihan bahkan tidak pantas atau pada situasi yang tidak tepat.

Pengaruh atau penyebab dari pseudobulbar affect belum teridentifikasi dengan jelas. Akan tetapi kondisi ini dikenal dengan adanya gangguan pada otak yang dapat dikelola dengan obat-obatan.

Maka jika kamu pernah sambil tertawa coba kenali gejala dari pseudobulbar affect (PBA):

1. Tertawa dengan mengeluarkan air mata

Pada kondisi ini biasanya akan ada ledakan tangis atau tawa tanpa ada sebab yang tidak terkait dengan emosi. Dimana tawa sering kali berubah menjadi air mata.

2. Respons emosional tidak tepat

Menangis atau tertawa terhadap hal yang menurut orang lain tidak lucu dan bukan sesuatu yang menyedihkan. Biasanya emosi seperti ini merepresentasikan perubahan dari cara kamu meresponnya.

3. Bukan depresi

Karena afek pseudobulbar sering melibatkan tangisan, kondisi hal ini sering disalah artikan sebagai depresi. Namun, PBA cenderung berdurasi pendek, sementara depresi menyebabkan perasaan sedih yang terus-menerus. Selain itu orang-orang dengan PBA sering kekurangan ciri-ciri depresi tertentu, seperti gangguan tidur atau kehilangan nafsu makan.

Jika kamu merasa sedang menderita PBA, bicarakan dengan dokter. Namun, jika kamu memiliki kondisi neurologis, mungkin bisa konsultasi dengan dokter yang dapat mendiagnosis PBA dengan dokter spesialis ahli neuropsikolog, saraf, dan psikiater.



Simak Video "Hanung Bramantyo Gelontorkan Rp 200 Juta untuk Operasi Saraf Kejepit "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)