Terkuak, Ini Data Awal RS Afsel Usai Diserang Omicron

Terkuak, Ini Data Awal RS Afsel Usai Diserang Omicron

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jumat, 10 Des 2021 09:08 WIB
Terkuak, Ini Data Awal RS Afsel Usai Diserang Omicron
Foto: AP Photo
Jakarta -

Data awal rumah sakit Afrika Selatan menunjukkan kurang dari sepertiga pasien COVID-19 yang dirawat mengalami gejala parah, usai diserang wabah Omicron. Namun, angkanya masih jauh lebih rendah ketimbang gelombang COVID-19 sebelumnya.

Dikutip dari ABC News, ada dua pertiga pasien dirawat COVID-19 mengalami gejala parah di dua gelombang Afsel sebelum muncul varian Omicron. Seperti diketahui, kasus COVID-19 Afrika Selatan telah melonjak 255 persen dalam tujuh hari terakhir, setelah mencatat kasus Omicron.

Data yang dirilis oleh Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) untuk Tshwane, wilayah metropolitan yang mencakup Pretoria tempat dugaan wabah Omicron pertama terjadi mencatat 1.633 pasien di rumah sakit umum dan swasta khusus COVID-19 antara 14 November dan 8 Desember.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari data tersebut, 31 persen di antaranya mengidap kasus COVID-19 parah, atau mereka yang membutuhkan oksigen atau ventilasi mekanis. Sementara di gelombang sebelumnya saat diamuk COVID-19 Delta, persentasenya lebih tinggi mencapai 66 persen pada awal gelombang kedua pandemi dan 67 persen pada minggu-minggu awal gelombang pertama.

Sementara per Kamis kemarin, NICD mencatat 22.391 kasus baru Corona, rekor tertinggi dalam gelombang infeksi keempat Afrika Selatan, 'hanya' ada 22 kematian.

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Afrika Selatan yang pertama kali mengidentifikasi varian Omicron memberikan warning saat jenis varian ini memiliki jumlah mutasi yang sangat banyak. Terlebih, mutasi tersebut terjadi pada protein spike yang digunakan virus untuk masuk ke sel manusia.

Sejak itu, mereka berusaha mencari tahu apakah mutasi membuat Omicron lebih menular atau lebih parah, dan sejauh mana mutasi tersebut dapat membantu virus menghindari kekebalan yang disebabkan oleh vaksin atau penyakit COVID-19 sebelumnya.




(naf/naf)

Berita Terkait