ADVERTISEMENT

Minggu, 12 Des 2021 17:05 WIB

Viral 'Kretek Abal-abal' Bikin Enak, Memangnya Aman Dilakukan Orang Awam?

Hartaty Varadifa - detikHealth
Chiropractic, kretek-kretek Foto: Hartaty Varadifa/detikhealth
Jakarta -

Baru-baru ini, 'kretek abal-abal' viral di Tiktok. Tanpa turun tangan praktisi andal, orang awam mencoba mengkretek badan ala praktisi chiropractic. Bagi sebagian orang, suara 'kretek' dari tindakan tersebut menghasilkan sensasi 'satisfying' (memuaskan). Padahal, hal itu tak boleh dilakukan sembarangan lho.

Master Sufiyanto, praktisi di klinik terapi fisik Tan's Tit Tar, menegaskan metode mengkretek tubuh seharusnya dilakukan oleh orang yang betul-betul memahami anatomi tubuh. Sebab jika dilakukan sembarangan, misalnya hanya belajar dari internet tanpa pendalaman ilmu yang memadai, bisa menimbulkan masalah pada tubuh.

"Sebenarnya harus dilakukan oleh orang yang betul-betul profesional dan harus mengerti anatomi butuh. Tapi karena lagi tren ini dan cuman dilihat dari Youtube itu sedikit berbahaya, karena saat mereposisi tubuh dengan tidak mengetahui anatomi tubuh atau yg dikretek itu bermasalah," terangnya pada detikcom, Selasa (7/12/2021).

Menurutnya, metode kretek-kretek ala tit tar adalah ilmu turun temurun. Setiap daerah bisa memiliki istilah berbeda untuk metode tit tar. Praktisi yang betul-betul paham bakal bisa membedakan kondisi tulang geser atau tulang patah.

Seiring perkembangan zaman, praktisi kerap mengandalkan teknologi untuk memastikan kondisi pasien serta treatment tepat yang diperlukan.

"Sekarang kan dengan perkembangan zaman sekarang kita kan sering jumpa ya terapis-terapis seperti itu, kalau misalnya turunan dari mereka sudah memanfaatkan teknologi," terang Sufiyanto

"Misalnya harus di-ronsen dulu. Nah setelah itu diperbaiki tulangnya dan dironsen kembali dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan, dilihat sudah kembali atau belum posisinya terus tinggal penyembuhannya dikasih obat," sambungnya.

Ia menambahkan, praktisi tit tar di tempatnya berpraktik dinaungi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Meski treatment yang dilakukan bersifat tradisional, tit tar tidak berupaya menyaingi kedokteran. Walhasil, berjalannya pun dengan standar tertentu untuk menekan risiko eror dan cedera.

"Kami bergabung dengan perkumpulan terapi patah tulang urat dan sendi di bawah Kemenkes dan ada standarnya. Kalau terapi-terapi lain itu saya tidak mengerti ya. Kalau kami punya sesuai dengan standarisasi," pungkas Sufiyanto.



Simak Video "Menakuti Bocah Pakai Suara 'Cekikikan' Hantu Bisa Timbulkan Trauma"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT