Rabu, 15 Des 2021 20:04 WIB

25 Tahun Tim Bedah Saraf RS Siloam, Ini 3 Kasus Paling Banyak Ditangani

Nada Zeitalini - detikHealth
Siloam Hospital Foto: Screenshoot/Siloam Hospital
Jakarta -

Tim bedah saraf Rumah Sakit (RS) Siloam mengungkapkan tiga kasus bedah saraf yang paling banyak ditangani selama 25 tahun ini. Ketiga kasus tersebut yaitu tumor otak, gangguan pembuluh darah, dan kelainan tulang belakang.

"Jadi intinya yang paling sering kita tangani yang pertama kasus-kasus tumor otak, yang kedua kasus-kasus kelainan pembuluh darah seperti pecah pembuluh darah, dan kasus yang ketiga yang sering adalah gangguan tulang belakang," ujar salah satu dokter bedah saraf RS Siloam, Dr. dr. Harsan, Sp. BS (K), M.Kes pada acara virtual peringatan 25 tahun tim bedah saraf Siloam, Rabu (15/12/2021).

Dalam kesempatan yang sama pula, dr. Harsan menjelaskan tim bedah saraf siloam sudah berproses jauh ke depan. Salah satunya dengan mulai menjangkau permasalahan gangguan gerak. Ia menuturkan hal ini membutuhkan ketelitian dan kompetensi yang cukup baik.

"Dan satu lagi yang butuh teknologi, yang dikerjakan dr Luthfi ini butuh ketepatan dan kompeten karena dr Luthfi ini bisa sampai menembak saraf yang kecil-kecil," tuturnya.

Dalam 25 tahun memberikan pelayanan bedah saraf di Indonesia. Prof. Dr. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp.BS (K), Ph.D yang merupakan dokter bedah syaraf pertama RS Siloam menjelaskan proses panjangnya hingga memutuskan membentuk tim bedah saraf.

Ia menuturkan, tentunya hal itu dilakukan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Misalnya dengan mengawal kondisi pasien selama operasi, setelah operasi hingga masa perawatan.

Kompetensi tim juga ditunjukkan dengan membagi tim pada bidang-bidang khusus. Hal ini juga memberikan kerja sama yang baik antar sejawat tim dokter bedah saraf.

Tim bedah saraf Siloam juga memiliki visi untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasiennya. Hal ini pun disampaikan oleh tim bedah saraf lainnya yaitu Dr. dr. Yesaya Yunus, Sp.BS (K), yang menyebutkan pentingnya memegang teguh untuk melayani sesuai dengan prosedur bedah saraf.

"Lalu selama ini kita masih berpegang pada bagaimana pelayanan bedah saraf bisa mengobati melayani sesuai dengan harapan," jelas dr. Yesaya.

(akn/ega)