Sabtu, 08 Jan 2022 06:39 WIB

Banyak Warga Curi Start Booster Vaksin COVID Ilegal, Kemenkes Angkat Bicara

Vidya Pinandhita - detikHealth
Vaksinasi COVID-19 terus dilakukan. Salah satunya diberikan untuk warga negara asing (WNA) yang tinggal di Jakarta. Booster vaksin COVID-19 ilegal banyak dilakukan sembunyi-sembunyi (Ilustrasi: Pradita Utama)
Jakarta -

Pemberian booster vaksin COVID-19 direncanakan baru akan dimulai 12 Januari mendatang, menyasar prioritas kelompok lansia. Namun sudah bukan rahasia lagi, tak sedikit yang 'curi start' mendapatkan booster vaksin secara sembunyi-sembunyi.

Praktik ini termasuk penyelewengan, mengingat secara resmi program booster vaksin COVID-19 selain untuk tenaga kesehatan (nakes) belum dimulai. Setelah dimulai pun, akan ada prioritas untuk menentukan siapa dan di mana saja penerima booster vaksin yang akan didahulukan.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan hingga kini booster vaksin COVID-19 untuk masyarakat umum tak seharusnya diberikan pada non-lansia.

"Tidak boleh seharusnya. Ini belum diputuskan," kata dr Nadia sata dihubungi detikcom, Kamis (7/1/2022).

Berdasarkan penelusuran detikcom, sejumlah orang non nakes yang sudah 'curi start' disuntik booster vaksin COVID-19 tidak mengalami perubahan status vaksinasi pada aplikasi PeduliLindungi. Artinya, booster yang didapatkan tidak tercatat.

Saya kira mendapat surat yang menyatakan saya sudah mendapat vaksin dosis tiga. Ternyata nggak sampai saya pulang. Saya lihat orang-orang nggak ada membawa form apa pun. Sepertinya tidak masuk aplikasi PeduliLindungiPengakuan penerima booster vaksin COVID-19 ilegal

Misalnya N, warga non nakes berusia 26 tahun asal Jakarta yang menerima booster pada Oktober 2021 menduga nihilnya perubahan tersebut disebabkan program booster vaksin COVID-19 memang belum diperuntukkan umum.

"(Status PeduliLindungi) tidak berubah, karena programnya belum jalan buat umum," katanya pada detikcom, Kamis (6/1/2022).

Hal serupa disampaikan oleh pria asal Surabaya yang mengaku sudah disuntik booster dengan membayar Rp 250 ribu.

"Pas saya mau pulang (dari lokasi suntik booster), saya kira mendapat surat yang menyatakan saya sudah mendapat vaksin dosis tiga. Ternyata nggak sampai saya pulang. Saya lihat orang-orang nggak ada membawa form apa pun. Sepertinya tidak masuk aplikasi PeduliLindungi," katanya dalam konferensi pers oleh LaporCovid-19 terkait temuan 33 laporan penyelewengan vaksin booster di 2021.

Menurut dr Nadia menyebut, hingga kini perubahan data di aplikasi PeduliLindungi untuk orang-orang yang sudah menerima booster vaksin COVID-19 masih akan dibahas lebih lanjut.

"Masih akan dibahas dulu. Belum tentu ini (penerima booster vaksin COVID-19 yang 'curi start') terdata," sambungnya.

Simak video 'Soal Program Vaksinasi Booster di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2