Senin, 10 Jan 2022 14:43 WIB

BPOM Setujui 5 Jenis Vaksin Booster, Efeknya Bakal Bertahan Berapa Lama?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Berisiko Picu Kanker, 67 Batch Obat Asam Lambung Ranitidin Ditarik BPOM. Kepala BPOM Penny K Lukito Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI baru saja mengeluarkan izin penggunaan darurat lima jenis vaksin COVID-19 sebagai booster. Vaksin-vaksin ini akan digunakan dalam program vaksinasi booster yang akan dilaksanakan 12 Januari 2022.

Kelima jenis vaksin tersebut yaitu CoronaVac buatan Sinovac, vaksin Comirnaty buatan Pfizer, vaksin Zivifax buatan Anhui, Moderna, dan AstraZeneca. Mekanisme vaksin booster ini akan diberikan dalam dua jalur, yaitu homolog (satu jenis vaksin yang sama) maupun heterolog (jenis vaksin yang berbeda).

Jika sudah mendapatkan vaksinasi booster, efek kekebalan yang didapat akan bertahan berapa lama?

Menanggapi hal itu, Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan masih memerlukan penelitian yang lebih jauh. Namun, menurutnya penelitian terkait berapa lama kekebalan dari vaksin booster bisa bertahan ini sedang berlangsung.

"Tentunya ini akan jadi bahan untuk penelitian lebih jauh. Sampai saat ini sedang berlangsung saya kira untuk melihat kapan kualitas booster bertahan berapa lama," jawab Penny dalam konferensi pers, Senin (10/1/2022).

"Ini menarik juga ya, (untuk mengetahui) setelah booster berapa lama lagi bertahannya untuk harus mendapatkan misalnya untuk booster kedua dan sebagainya," lanjutnya.

Sebelumnya, Penny mengungkapkan salah satu alasan pemberian vaksin booster ini adalah menurunnya antibodi usai pemberian vaksinasi primer. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa terjadi penurunan kadar antibodi hingga di bawah 30 persen setelah enam bulan vaksinasi primer lengkap diberikan.

"Data dari imunogenisitas dari pengamatan uji klinis menunjukkan penurunan kadar antibodi yang signifikan, menurun sampai dibawah 30 persen terjadi setelah enam bulan vaksin primer yang lengkap," jelas Penny.

Maka dari itu, berdasarkan data hasil uji klinis tersebut pihak BPOM menganjurkan adanya pemberian vaksin tambahan atau booster.

"Diperlukan pemberian vaksin booster atau dosis lanjutan untuk meningkatkan imunogenisitas guna meningkatkan vaksin yang menurun," terang Penny.



Simak Video "Daftar Kombinasi Vaksin Booster Tambahan Versi BPOM"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)