ADVERTISEMENT

Selasa, 18 Jan 2022 12:50 WIB

Serang 'Titik Lemah', Pelaku Kekerasan Seksual Biasanya Orang Terdekat

20detik - detikHealth
Jakarta -

Kasus kekerasan seksual pada anak seakan tak ada habisnya. Rupanya, persoalan psikologis bisa jadi penyebab seseorang menjadi pelaku tindakan keji tersebut.

Tak hanya faktor kejiwaan pelaku, kondisi psikologis korban juga kerap menstimulasi terjadinya kekerasan seksual. Beberapa faktor psikologis berikut dijabarkan Psikolog Anak dan Remaja, Irma Gustiana A., dalam program e-Life detikcom:

1. Kontrol diri yang rendah dan impulsif
"Yang pertama, memang individu tersebut ini memiliki kemampuan kontrol diri yang rendah. Jadi, kemampuan dia untuk meregulasi emosi, untuk mengendalikan dirinya itu, memang kecenderungannya rendah. Terus kemudian juga ada perilaku yang impulsif."

2. Selalu ingin mendapat apa yang ia inginkan
"Kemudian, dia biasanya kecenderungannya ketika sesuatu yang dia inginkan tidak didapatkan, itu ada kegelisahan."

3. Ketidakmampuan berpikir rasional
"Pada beberapa individu, kemampuan mereka untuk berpikir secara rasional, sebab akibat, problem solving ini rendah, ya. Bisa terjadi karena berbagai hal. Mungkin karena stres, salah satunya. Lalu, bisa juga karena memang individu tersebut memiliki gangguan, gitu. Ada disorder. Dalam dirinya. Sehingga, membuat dia tidak mampu untuk mengelola dirinya dengan baik, gitu ya, secara sosial."

4. Pelaku adalah korban di masa lalunya
"Pada beberapa kasus, ya, pada beberapa penelitian, ternyata para pelaku kekerasan seksual kepada anak ini adalah korban juga di masa lalunya, di masa kecilnya, dan kemudian tidak ada penyelesaian secara tuntas. Sehingga, yang dia pelajari atau yang dia hayati di bawah sadarnya dia, bahwa perilaku tersebut adalah mungkin saja itu adalah sesuatu yang tepat. Atau mungkin itu sebagai revenge-nya dia. Balas dendamnya dia. Karena ada secara psikologis, ada sesuatu yang terluka secara mendalam."

5. Superioritas

Relasi kuasa yang timpang juga jadi sebab kekerasan seksual pada anak terus terjadi. Superioritas pelaku seringkali membuat korban tak berdaya untuk melawan.

"Ada relasi kuasa, memiliki kekuasaan yang lebih, memiliki otonomi yang besar, kemudian juga dominan. Nah, superior, kemudian ada kesempatan, nah itu dijadikan sebuah apa namanya, cara bagi dia untuk memuaskan keinginan seksualnya," papar Irma.

"Kemudian ada ancaman, karena si anak merasa ini adalah figur otoritasnya dia. Jadi ketika dia diancam oleh orang yang dia kenal, oleh yang memang lebih dewasa dan mungkin setiap hari dekat dengan dia, ada ketakutan ketika dia dipaksa melakukan itu dia menjadi tidak berdaya," lanjutnya.

Tak berhenti di situ, pelaku bisa jadi adalah sosok yang karismatik. Kemampuannya untuk 'mempesona' anak-anak, membuatnya bisa menjebak mereka menjadi korban.

"Beberapa orang yang memang dekat sama anak ini memang memiliki kemampuan atau skill untuk menarik anak gitu. Jadi, mereka umumnya apa ya, mampu untuk 'mempesona' anak gitu. Sehingga, memang anak-anak menjadi mudah sekali untuk bisa diajak melakukan beberapa hal. Nah, dan mereka itu memang biasanya adalah orang-orang yang paling tahu kebiasaan anak tersebut. Maka, bisa terjadi guru kepada siswa, kemudian juga orang tua, ayah kepada anak tirinya, misalnya. Atau paman, terhadap keponakannya," terang Irma.

6. Psikologi orang terdekat
Kekerasan seksual pada anak sering terjadi di lingkungan terdekatnya, seperti di keluarga atau di sekolah. Kedekatan pelaku dan korban seringkali memudahkan siasat pelaku untuk menjalankan aksinya.

"Pelaku tersebut itu sudah mempelajari, gitu. Karena dia sangat dekat dengan anak, dia tahu kebiasaan anak seperti apa, dia tahu celahnya bagaimana, ya. Lalu kemudian apa titik lemah dari anak tersebut. Contohnya kenapa anak-anak menjadi mudah sekali diiming-imingi gitu ya," jelas Irma.

(mjt/ids)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT